T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen: Hujan Yang (Tidak) Romantis

kisah romantis, cerpen romance, cerita cinta romantik

“Seperti Tuhan mengirimkan hujan ke bumi. Simple, tanpa perlu alasan tepat kapan dan dimana, tapi dicurahkan begitu saja dengan cuma-cuma”

Entah kapan terakhir kali aku bermain hujan. Entah kapan terakhir kali aku menari-nari kegirangan di bawah hujan. Entah kapan terakhir kali aku kehujanan dengan penuh sukacita. Entah kapan terakhir kali aku flu karena hujan. Mungkin dulu saat aku anak-anak? Atau beberapa tahun lalu dengan seragam putih biru? Hmmm atau jangan-jangan baru kemarin sore? Entahlah… hal tidak penting yang tak perlu aku catat dalam buku harianku. Terlalu sepele hanya sekedar hujan.

Hujan? Sepele? Upss…

Dulu waktu kecil, Aku yakin aku pernah kegirangan bermain hujan. Sepele kah rasa girang itu? hmmm… rasanya sih tidak.

Dulu pula, aku yakin ibu pernah memarahiku yang mendadak flu setelah aku bermain hujan. Sepele kah perhatian ibuku? Hmmm…lagi-lagi tidak.

Jadi, mungkin aku tidak bisa bilang ‘sepele hanya sekedar hujan’.

Lalu, ada apa dengan hujan? Oke, terlalu berputar-putar membahas tentang hujan. Intinya aku hanya ingin bilang, tuhan mengirimkan kamu seperti Dia mengirimkan hujan di atas bumi kemarau. Begitulah kamu yang dikirimkanNya di tengah galau. Hahahaa…. stop mengerutkan dahi dan menahan tawa membaca kalimat itu.

Kamu seperti hujan. Yang tidak bisa dicari dan mendadak muncul sendiri. Kamu seperti hujan yang terlalu sesuka hati, kadang-kadang lembut dengan rintik kecil dan kadang terlalu menyebalkan karena terlalu derasnya, apa adanya saja. Kamu seperti hujan yang diam-diam menyimpan kilat dibalik gelap tapi juga dengan penuh kejutan meramu pelangi dibalik kelabu.

Seperti hujan yang tidak bisa dicari dan mendadak muncul sendiri. Kira-kira begitulah dengan kamu. Aku tidak mencari, tapi tiba-tiba entah dengan skenario apa mendadak kamu ada. Aku tidak pernah berencana tapi tiba-tiba kamu muncul di depan mata. Seperti hujan yang nyaris tidak pernah aku tunggu, kira-kira begitulah kamu. Tapi juga seperti hujan yang sesekali aku cari, begitulah kamu yang diam-diam menyenangkan hati.

Seperti hujan yang terlalu sesuka hati. Ya begitu juga kamu. Yang sesuka hati menunjukkan wujudmu. Seperti hujan yang kadang romantis dengan rinai gerimis. Begitupula kamu yang sesekali diam-diam bersikap manis. Seperti hujan yang kadang-kadang datang terlalu deras, begitulah kamu yang sesekali menampilkan sisi dirimu yang juga keras. Seperti hujan, yang turun ke bumi dengan sesuka hati tanpa peduli akan berarti atau di caci. Apa adanya sesuka hati. Membiarkan bumi memaknai sendiri. Membiarkan bumi menikmati setiap tetes yang ada dengan caranya sendiri. Seperti kamu, apa adanya dan sesuka hati. Menampilkan dirimu apa adanya tanpa peduli. Membiarkan aku menilai sendiri. Dan mengenal kamu dengan sudut pandangku sendiri. Seperti hujan yang sesuka hati membiarkan bumi berinterpretasi seperti juga kamu yang menghadirkan sekelumit ekspektasi.

Seperti hujan yang menyimpan kilat dibalik gelap, tapi juga meramu pelangi dibalik kelabu, romantis! Begitupula kamu. Seperti hujan yang menampilkan langit gelap yang sesekali ditingkahi kilat, begitulah kamu muncul dengan sisi gelap yang sesekali memancing kesan jahat. Menggambarkan kehidupan super lengkap yang sesekali memancingku mengerutkan jidat.

Tapi baik kamu sadari atau tidak, kamu akui atau tidak, seperti hujan yang diam-diam meramu pelangi dibalik langit kelabu, romantis. Begitupun kamu yang selalu mengklaim tidak ada kata-kata romantis dalam kamus kehidupanmu. Seperti hujan yang diam-diam meramu pelangi dibalik langit kelabu. Begitu pula kamu yang diam-diam baik hati dibalik tabiat keras yang membatu. Seperti pelangi dibalik kelabu, kira-kira begitulah kamu. Mungkin sebagian orang bahkan kamu sendiri, hanya melihat dan mengumbar sisi kelabu, tapi banyak orang dibawah sini, mungkin termasuk aku, yang bisa melihat bias warna lain yang terurai dibalik itu. aku bisa melihat pelangi disitu, dan itu romantis. kamu seperti hujan yang diam-diam meramu pelangi dibalik kelabu dan kamu tampilkan diam-diam pula pada masanya. Begitulah yang terlihat dimataku, selalu ada sisi baik yang kamu tuangi disetiap tingkah laku yang tepat pada porsinya. Dalam kalimat simple, aku namai itu romantis. dan silakan masukkan romantis dalam kamusmu dengan definisi luas itu.

Hujan, kadang menyenangkan kadang menyebalkan. Begitulah kamu.

Kadang deras kadang gerimis,begitulah kamu, kadang keras kadang manis.

Kalau kamu pun seperti hujan yang sesuka hati, maka biarkan bumi berinterpretasi semaunya sendiri. Seperti bumi yang akan menerima apa adanya hujan yang turun dari langit. Turunlah apa adanya, baik itu berupa hujan deras atau rinai gerimis.

Kalau bumi ini tak perlu berbenah menyambut hujan yang turun apa adanya sesuka hati dan membiarkan semua berjalan alami, mungkin aku pun begitu , berinterpretasi tentang kamu yang seperti hujan apa adanya dan sesuka hati.

- Thanks for every ‘weekend inspiring chit-chat’. Its great to meet you :) -

Penulis: F. Lenny | Kompasiana
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen: Hujan Yang (Tidak) Romantis"

Back To Top