T h e P o w e r o f L o v e

Demi Cinta, Kubelah Bukit

Cinta bisa menggerakkan seseorang.

Seseorang yang bergerak karena cinta akan mengubah dunia.

***

"Selamat tinggal," ucap Kareena, sambil memegang erat tangan kanan suaminya.

Sebetulnya, ia tak tega melihat air muka suaminya sedemikian sedih. Tidak, selama ia mengarungi biduk rumah tangga bersama suaminya.

"Jangan pergi..." air mata suaminya tak bisa dibendung lagi. Mulai meleleh membasahi pipi.

"Tidak, Dashrath Manjhi, tidak. Aku harus pergi. Sudah waktuku. Sudah cukup bagiku menemanimu selama ini. Terima kasih karena telah berbuat baik padaku selama ini."

Dashrath Manjhi hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Ketika tangan Kareena mulai melemas, dan akhirnya terlepas dari genggaman Dashrath, air mata laki-laki itu tak bisa dibendung lagi.

Sambil menggoyangkan tubuh Kareena, Dashrath menangis sejadi-jadinya. "Tidakkkk..."

***

Dashrath Manjhi tak mau lagi menggerakkan tubuhnya. Sudah tiga hari sejak kematian istrinya, Dashrath berbaring di atas dipan begitu saja. Tak makan, tak ganti baju, tak mandi. Ia membiarkan tubuh kurusnya bertambah kurus.

Dalam setiap gumamannya, laki-laki itu menyalahkan dirinya atas kematian istri paling dikasihinya itu. Ya, Kareena memang meninggal bukan akibat terserang penyakit. Kareena meninggal karena tergelincir di jurang, kala hendak membawakannya makanan untuknya.

'Maafkan aku Kareena, maafkan aku..." Dashrath membayangkan wajah istrinya, yang semakin memudar. Tak terasa air mata meleleh di pipinya. "Jika saja, bukit itu tak ada, takkan begini jadinya!" Tangan Dashrath mengepal, dan memukulkannya pada dipan. Bruakkk...

Dashrath pun melemas kembali. Semarah apapun dia, tak ada yang bisa dilakukannya agar Kareena bisa kembali lagi. Tak ada. Ini sudah kehendak para dewata. Tubuh Dashrath lemas. Matanya mulai berat. Perlahan-lahan ditutupnya mata sayu itu. Kemudian, ruh Dashrath melayang ke alam mimpi. Bertemu dengan Kareena, istrinya tercinta.

***

Pagi-pagi betul, Dashrath sudah keluar dari rumah sambil membawa palu dan tatah. Ia berjalan menuju bukit. Beberapa orang yang berpapasan, menyapanya dengan hangat. Menanyakan kabar dan berbasa-basi sedikit. Dashrath pun menjawab dan berbicara dengan lancar, seolah-olah tak ada yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Tak ada yang aneh hari itu.

Walaupun, sebenarnya benak kerabat-kerabat yang bertemu dengan Dashrath bertanya-tanya, 'mengapa Dashrath membawa palu dan tatah ke atas bukit? Apa yang hendak dilakukannya?'

Memang beberapa orang hanya bertanya dalam hati. Namun, lainnya melontarkan pertanyaan itu. Yang segera dijawab oleh Dashrath dengan jawaban sederhana, "Aku hendak membelah bukit itu. Akan kubuat jalan membelahnya.

Mereka menertawakan kelakuan Dashrath. Benak mereka dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana caranya? Ada-ada saja. Tidak mungkin bisa.

Tapi Dashrath tetaplah Dashrath. Ia tidak peduli pada kemungkinan yang dikatakan orang. Ia tetap berjalan menuju bukit itu. Kemudian duduk di puncaknya, dan mulai menatah bukit itu.

***

Tiap hari, Dashrath menatahi bukit itu untuk membuat jalan membelah langsung. Agar orang-orang bisa berjalan lebih cepat dan lebih aman. Tanpa terasa waktu 20 tahun telah berlalu. Pada akhirnya, jalan membelah bukit itu pun jadi. Kini semua orang bisa melewati jalan itu dengan leluasa - motor dan gerobak pun bisa.

Saat itulah para wartawan berdatangan untuk mewawancarainya. Satu pertanyaan yang diajukan: "Apa yang mendorong Anda melakukan semua ini?"

"Cinta," jawab Dashrath, "Cinta saya kepada istri saya adalah percikan awal yang telah menyalakan api keinginan saya untuk memahat jalan ini. Tetapi keinginan melihat ribuan penduduk desa melintasi bukit kapan pun mereka ingin, membuat saya sanggup bekerja selama bertahun-tahun tanpa ada rasa takut dan khawatir."

***

Terinspirasi dari cerita Dashrath Manjhi, yang bekerja membelah bukit selama 20 tahun tanpa upah dan pamrih.[]


Tag : Kisah Nyata
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Demi Cinta, Kubelah Bukit"

Back To Top