T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Cinta: Cinta Kun

Pagi ini tiba-tiba saya ngelantur. Terbangun dari tempat tidur saya menggeliat dan menguapkan udara dari mulut banyak sekali. Pertanda saya masih mengantuk. Tapi ini sudah pagi, sudah saatnya meregangkan tubuh dari kekakuan otot-otot yang masih terlelap. Saya turun dari tempat tidur saya yang sudah reyot, maklumlah tempat kos-kos-an ini memang sudah begini. Reyot campur pengen ambruk. Yah, kos-kosan murah meriah bikin cepat pengen marah. Tapi tak mampu juga saya bayar kos-kosan yang berfasilitas lebih memadai.


Saya menyeduh kopi, setelah sebelumnya memasak air di zitter (teko listrik). Secangkir kopi panas di pagi hari bisa menghangat diri yang kedinginan oleh hawa pagi. Larut sekali saya tidur semalam, mengerjakan sebuah cerita yang belum tuntas, hingga sekarang saja belum tuntas. Dan mungkin belum akan tuntas karena ceritanya sendiri yang mengilhami saya juga belum tuntas. Setelah memasukkan beberapa sendok teh gula pasir, saya mengaduk kopi, kemudian menyeruputnya sedikit demi sedikit sampai kopi itu habis.

Saya setel itu komputer, mencari-cari file di folder yang saya buat semalam. Setelah ditemukan, saya klik itu file, mengasik-masyuk cerita itu lagi, sebuah cerita yang belum tuntas itu. Sebenarnya bukan saya yang ingin melakukannya, tapi karakter-karakter dalam cerita saya yang mendesak-desak untuk mengeluarkan mereka dari dalam kepala penuh imajinasi ini.

***

Ini adalah cerita cinta lama seorang kawan, sebut saja namanya Kun. Kun Hadisuwarno nama lengkapnya. Seperti nama penata rambut memang, tapi berani sumpah nama aslinya itu. Ceritanya diawali awal semester, saat tahun ajaran 2004 baru mulai berlangsung. Kalau kau pernah membaca tentang buku Cinta Semester Pertama, nah ceritanya mirip seperti itu, meski saya tak tahu pasti akhir cerita buku itu. Tapi awal kisahnya memang mirip demikian.

Tersebutlah Kun Hadisuwarno jatuh hati dengan seorang dara. Panggillah ia dengan nama Melati, jika kau ingat nama seorang penyanyi cilik dengan nama Melati, itulah nama depannya adalah nama sesungguhnya perempuan itu. Maka Kun Hadisuwarno pun melakukan pendekatan yang dikenal sama anak-anak muda Indonesia era kekinian istilah PeDeKaTe. Barangkali Kun Hadisuwarno terinspirasi pula oleh lagunya tante Titik Puspa. Apabila cinta sudah menggoda, dia jauh aku akan mendekat, tapi apabila dia mendekat aku pura-pura jual mahal. Nanti setelah diam, aku akan cari perhatian. Barangkali itu prinsip Kun Hadi tadi. Mungkin saja tho? Aku hanya menebak-nebaknya saja.

PeDeKaTe itu berlangsung lama, kira-kira 1,5  tahun, tapi tidak tahu pula kapan tepatnya, karena saya juga nggak catet tanggal, bulan  dan tahunnya. Kabar yang hinggap ke telinga saya sih, Kun Hadisuwarno ditolak mentah-mentah sama Melati. Tapi herannya Kun tetap keukeh mempertahankan loyalitas cintanya kepada Melati. Secara mereka sekelas. Tapi apa enak ya mengejar-ngejar gadis sekelas? Ah, sebodolah. Beginilah wawancara saya sama dia.

“Kun, kamu sudah ditolak sama dia, masih aja mengejar-ngejar dia?” tanya saya.

“Nggak tau juga, Far. Saya bingung dengan keadaan seperti ini. Saya mau pergi salah, katanya dia nggak mau jauh-jauh dari saya... nggak pengen jauh-jauh dari dia, saya malah dilematis. Saya dalam kondisi sulit nih.” Jawabnya.

“Lantas kamu mau dipermainkan dia, gituh? Itu istilah saya lho...”

“Saya serius lho sama dia. Jadi seperti yang sudah saya bilang tadi, saya bingung. Tentunya kamu juga akan kebingungan menghadapi situasi yang demikian, jika kamu tahu apa yang saya maksudkan.”

Yah, gituh deh, curhat saya dengan Kun. Apa yang dicurhatin Kun sama saya sebenernya pernah  saya alami juga dan hasilnya saya nyerah. Yah, katakan saja kita senasib. Saya sebenernya cukup salut dengan mentalnya Kun. Maju perut pantat mundur, eh salah, maju terus pantang mundur ding...hehehe. Emang ada yang membuat ganjalan di hati mereka masing-masing, menurut  pandangan saya pribadi. Selain itu saya paham-paling tidak bisa menangkap sinyal-sinyal  positif...cailah, dari Sinta ini. Tau apa? Sinta ternyata juga punya sesuatu-something like  that-seperti punya yang dirasakan Kun. Benarkah? Tapi keduanya kan berbeda...yah, tapi ceritanya kan begitu…

***

Sore itu, saya ada di kos Gentonk, lagi nggarap tugas kemanusiaan untuk diri saya sendiri,  yaitu tugas kuliah saya. Dan ketika itu Kun dateng dengan wajah yang cukup sumringah banget. Ada kabar gembira kali. Bener saja. Saya sih udah bisa tebak-tebak dari prengas-prengesnya dia.  Wah, ada apa ya?

Saya: Ada apa Kun? Kuk kamu kelihatannya seneng banget, kalo punya bahagia itu yah  dibagi-bagi sama orang lain, asal jangan abis makan ayam goreng Suharti, truz kentutnya  dikasihkan saya lho.

Kun: *masih prengas-prenges* Saya abis jadian?

Kontan pernyataan itu membuat saya mendelik. Terkaget-kaget. Dan survey banget, eh, surprise  banget...

Saya: Seneng dunkz?! Pajaknya mana?

Dia pun kembali prengas-prenges. Tanda ogah nraktir ato nggak punya duit? Nggak tau ya. Abis itu saya ucapin selamat sama dia. Lucu juga...ditolak dua kali ...ditunggu-tunggu nggak kunjung datang, tapi giliran hati menyerah ingin pergi dia datang tanpa sebuah syarat.  Seperti Jepang saja di Zaman merdeka dulu. Kun pun segera melengos pergi, meninggalkan saya sendirian yang masih sibuk ngerjain tugas kemanusiaan (halaah).

------

Beberapa bulan kemudian. Saya, pas maen-maen ke Lab skull, ngeliat adanya kejanggalan dengan  mereka. Apa? Waktu itu saya jadi sering maen kesini, karena biasalah saya ngetik-ngetik,  sesuatu yang berguna. Maklum aje, komputer dirumah saya udah terjual habis di tempat  penjualan komputer bekas. Gimana yah nasib komputer saya sekarang? Hiks. Hiks.  Hiks. Saya sedih nih.

Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kalau Sinta sekarang cuekin Kun. Lho kok?! Saya  juga nggak tahu dengan pastinya. Hal itu saya lihat selama satu minggu.

Seminggu kemudian saya pulang bareng Kun. Kun pulang mbonceng motor saya. Hari itu cuaca agak mendung. Nah, pada saat yang itu saya tanya-tanya gimana perkembangan hubungannya dia  sama Sinta.

Saya: Kun, kuk ada yang aneh dengan hubungan kalian?

Kun: Aneh?!

Saya: Iya, saya lihat seminggu, yah seminggu yang lalu, keknya kalian diem-dieman aje.  What's worng guyz?

Kun: Iya, kemaren dia sempat jauhin saya. Katanya, dia bingung, lantas kerjanya cuma  marah-marah mulu...nggak ada juntrungannya.

Saya: Ooo...tapi nggak putus kan?

Kun: Mudah-mudahan nggak...

Namun omongan yang masih terngiang dibenak saya itu ternyata harus pudar dengan kenyataan  bahwa dua hari kemudian Kun putus. Lha? Gimana ceritanya. Dia bilang nggak cocok. Hal ini membuat Kun rada-rada shock...dia hampir aja koma, kalau-kalau dia nggak inget sama dirinya sendiri. Kun hampir bunuh diri. Dia merasa putus asa kehilangan cintanya. Kasihan.

Lalu saya, kasih tahu dia petuah-petuah bijak saya (sok-sokan).

Saya: *melihat keadaan Kun yang bingung* …Yang harus kamu lakukan adalah PD, Iyai, kamu harus tegar menghadapi semua ini. Kamu putus bukan berarti masa depan kamu hilang. Kamu harus menghadapinya sebagai seorang ksatria yang gagah berani. Jangan sampai kamu loyo, patah semangat, dan kurang bergairah. Tetep pada semangat hidupmu yang sekarang, apalagi kamu terjerumus dan terjerembab kebawah, yang akan membuatmu semakin diremehkan orang, khususnya cewek-cewek. Ayo berjuang!!! Masih banyak harapan ke depan. Dan cewek-cewek cantik yang siap untuk digodain. Chaiyo!!!Chaiyo.

Kun pun meringis, entah dia mendengarkan apa nggak, yang jelas dia mengangguk-angguk. Mungkin tanda mengerti. Saya sih cuma bisa bilang begitu aja, nggak bisa bilang lebih dari itu. Saya nggak tahu yang lain.

Kun: Thankz pren..

Saya: Itulah gunanya teman, Kun.

Barangkali hidup Kun akan lebih baik tanpa Sinta? Who’s Know. Who’s Know.  Who’s Know. Guyz? ….Tapi ngomong kan memang lebih mudah daripada menjalaninya sendiri. []
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Cinta: Cinta Kun"

Back To Top