T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Cinta: Lagu Blues

Jalanan lengang, ketika kutancap gas vespaku pada kecepatan maksimal. Udara dingin menusuk. Menembus semua sendi di tiap ruas tulangku. Serasa beku, namun tak kuhiraukan. Walau kukenakan jaket kulitku. Habis nonton Blues Night di Java Café Jalan Magelang. Masih teringang di benakku, keparauan lagu dari Eric Clapton yang dibawakan gitaris lokal yang memang sudah kenamaan memainkan nomor-nomor Blues. Kang Eeng …

I can feel your body
When I'm lying in bed
There's too much confusion
Going around through my head

Sepi. Sunyi. Senyap. Aku hanya bisa merasakan dirinya dalam pikiran dan perasaanku. Apakah ini tak nyata? Apakah ini ilusi? Oh, sepi. Oh, sunyi. Kesakitan yang dirasakan Clapton kini merasuk ke dalam tubuhku. Suara kang Eeng menjadi induktor pesan kesakitan cintaku. Meranggas dan berdarah-darah. Terluka. Menyesap keseluruh raga menuju sukma.

Tanpa kusadari aku memasuki imaji tingkat tinggi. Aku mengikuti irama Blues yang mengalun parau … tubuhku serasa ringan berdansa lembut sendirian. Sedang orang lain bergerak mengikuti irama-irama pasangannya. Inikah cinta? Inikah luka? Inikah kesepian? Inikah hidup? Inikah Blues? Ketika Blues tak lagi ngeBlues.

“Sebelum kau mengatakan cinta lebih baik kau tahu apa itu cinta?” Katamu dulu. Pacarku dulu. Saat aku ingin mengatakan I love U . Masih kuingat lirik-lirik puisi yang pernah kau buat dulu untukku. Ah, cinta lama. Cinta pertama. Cinta SMA. Teringang selalu dalam layar tiap babak kehidupanku. Detak hatiku masih berteriak memanggil namamu. Sama seperti dulu.

Apakah tanganmu berkeringat, hati-mu deg-degan, suara-mu menyangkut di Tenggorokan? Hal itu bukan cinta ... tapi SUKA
Apakah kamu menginginkanku karena ingin aku selalu disamping-mu?
Hal itu bukan cinta ... tapi KESEPIAN
Apakah kamu ada bersamaku karena adukan dari rasa nyeri dan kegembiraan Hatimu yang tak berlogika?
Sangat membutakan ... ITULAH CINTA ...
Apakah kamu masih menerima kesalahanku?
Karena semua itu maka aku ada dan itu bagian dari kepribadianku
ITULAH CINTA ...
Apakah kamu tertarik dengan orang lain ... tapi masih setia bersamaku?
ITULAH CINTA ...
Apakah kamu rela memberikan hati-mu...kehidupan-mu…dan kematian-mu?
ITULAH CINTA ...
Apakah hati-mu tercabik bila aku bersedih?
ITULAH CINTA ...
Apakah kamu menangis untuk kepedihanku? 
Meskipun aku terlihat tegar... ITULAH CINTA ...
Sekarang ...
Bila kita tau bahwa cinta itu menyakitkan dan
Menyiksa kita begitu rupa ...
Lalu mengapa kita masih juga mencintai kesakitan ini..
Penderitaan ini ...?
Mengapa hal ini adalah hal yang kita cari dan kita ingini ...?
Semua kesakitan ini adalah sebuah kematian
Terhadap ego dan kepribadian sendiri ...
Mengapa ?
Semua ini disebabkan oleh CINTA ...

Kenapa aku mencintaimu? Ada pertanyaan dalam tarian sepiku. Mengapa aku mencintaimu, bila aku tahu kini kau pergi meninggalkanku sendiri. Kau pernah memberitahukan padaku, cinta adalah kesakitan. Cinta adalah penderitaan. Cinta adalah siksa. Oh, cinta yang selalu hadir dalam jiwa-jiwa manusia yang lemah.

Kubawa naskah cinta usang kita kemana-mana. Aku rindu. Dimana dirimu yang dulu. Sudahkah banyak cerita cintamu berganti, setelah kau bunuh aku untuk memerankan lakonku sebagai arjunamu, dulu? Seperti lagu Blues. Ketika Blues tak lagi ngeBlues.

Dari filsuf cinta abadi, legenda Pat kai—yang seribu kali hidup menanggung beban cinta, pernah berkata, “beginilah cinta, dari dulu deritanya tiada pernah berakhir.” Yah, cinta. Cinta takkan pernah mati, walau sudah renta. Walau berusia sepanjang sejarah manusia. Walau dibunuh sekalipun. Dicincang. Dihempaskan. Cinta. Cinta. Akan selalu hidup sepanjang kehidupan manusia. Dengan derita-derita yang melegenda.

Aku berhenti sejenak dari tarian sepiku. Mencoba kembali duduk pada dudukku di sudut paling sudut, tetapi cukup strategis untuk dapat menonton sekaligus mendengarkan teriakan-teriakan kang Eeng yang semakin memarau sengau.

I can see your face
But I know that it's not real
It's just an illusion
Caused by how I used to feel

Manusia harus tak pernah lelah untuk mencari. Para pengelana harus hidup di padang pasir, demi menceritakan pengalamannya kepada para pengecut yang bersembunyi di balik ketiaknya sendiri, yang menceritakan ketakutannya. Akulah sang pengelana padang pasir itu. Pengembara haus di tiap jengkal cinta. Akulah penguasa atas diriku. Bukan takdir atau nasib yang mengasihaniku.

Old love, leave me alone
Old love, go on home

Erangan kang Eeng semakin memarau sengau mengakhiri nyanyiannya yang sudah seperti nyanyian yang dibuatnya sendiri.

Sayang aku sudah pulang ke rumah
Aku lelah, tolong buatkan secangkir kopi
Untuk menghangatkan badanku
Tapi, aku ingat kau tak ada di rumah
Kita bertengkar hebat semalam. Dan kau pergi pulang ke rumah orangtuamu
Kemudian sepi mulai melandaku
Aku rindu kamu. Baru aku tahu betapa aku membutuhkanmu
Memang ini baru sehari

Oh, sayang malam ini begitu dingin
Tak ada kau di sampingku. Aku memikirkanmu
Apakah kau memikirkanku?
Aku ingat kau tak ada di rumah
Kita bertengkar hebat semalam. Dan kau pergi pulang ke rumah orangtuamu
Kemudian sepi mulai melandaku
Aku rindu kamu. Baru aku tahu betapa aku mencintaimu
Memang ini baru sehari

Oh, sayangku betapa aku mencintaimu
Oh, sayangku lihat diriku tanpa dirimu
Oh, sayangku kumohon pulanglah
Oh, sayangku. Oh, sayangku.

Lirik puisi yang kubuat mendadak muncul di kepalaku. Lirik kebingungan kemana harus mencari gairah yang memudar. Gadis yang menyusupkan keseluruhannya pada hatiku. Kemana harus mengenalinya lagi di padang maha luas ini? Aku bingung. Sekitarku jelaga. Bau tubuhnya masih melekat pada ingatan cuping hidungku.

Tiba-tiba saja bayanganku melayang hinggap di suatu pagi. Pagi. Yah, pagi. Aku baru saja diputus pacarku. Pagi. Entah pagi yang mana? Pagi terlupakan. Pagi yang dilupakan sejarah. Pacarku tak tahan melihat kenyataan hidupku. Kacau menurut ukurannya. “Kita putus!” Begitu saja kata yang terlontar dari bibirnya pagi itu. ya, pagi itu. Entah pagi yang mana? Yang terlupakan atau yang dilupakan sejarah. Bibir yang selalu lembut untuk kukecup itu kini mengungkapkan keseluruhannya. Tanpa pikiran. Tanpa beban melepaskan kepenatannya.

Tetapi, aku yakin mencintainya. Hingga kini … ah, cinta lama. Cinta pertama. Cinta SMA. Cinta yang selalu kubawa dalam tiap lakon kehidupanku. Hidup memang selalu membutuhkan tragedi-tragedi yang malang untuk bisa dipahami. Kini pertanyaan itu terus mendera pada diriku sendiri, apakah ini cinta? Aku menerima semua kesalahanmu dan memaafkannya. Aku masih menerima teriakan nyeri dari hatiku atas bayangan wajahmu. Aku masih setia dengan perasaanku, walau aku tertarik dengan orang lain. Dan aku sudah memberikan semuanya padamu. Tak berlogika memang. Jadi apakah ini cinta? Kini ragukah kau padaku? Sesuatu yang terlambat kukatakan dulu. Toh, kau sudah pergi.

Suara kang Eeng masih memarau sengau di benakku. Meneriakkan Blues. Blues. Ketika Blues tak lagi ngeBlues …

Aku kebut vespaku. Jalanan lengang. Dan udara dingin menusuk, menembus sendi di tiap ruas tulangku. Walau kukenakan jaket kulitku. Habis pulang nonton Blues Night di Java Café jalan Magelang. Ini sudah jam 02.00 dini hari. (nd) 
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Cinta: Lagu Blues"

Back To Top