T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Cinta: Martir

“Sekarang kita adalah martir-martir itu,” serunya seraya berlari terus menuju medan pertempuran. Aku mengikuti di belakangnya. Dor ..dor..dor. Letusan itu terdengar keras sekali. Berulang-ulang. Dia berteriak, suaranya parau. Merah darahnya mengaliri kujur tubuhnya. Ia mengejang. Aku yang berada di dekatnya hanya mampu diam.

Bagaimana ia harus kudekati, sementara peluru-peluru terus saja beterbangan menembus ruang-ruang di udara.


Melihatnya dalam keadaan begitu, aku sedih. Ia diam dalam tidurnya yang damai. Bibirnya tersenyum, seolah berkata aku lega sekarang. Kupikir memang demikian. Aku ingat ia pernah bercerita kepadaku alasan mengapa ia menjadi martir. Walaupun aku sendiri tak pernah percaya ceritanya, namun aku tahu itu ungkapan isi hatinya, yang mungkin saja kebenaran dari ketulusan hatinya.

 Ketika itu, malam sedang panjang. Kami beristirahat di barak tentara darurat yang disediakan seadanya. Semua prajurit berkumpul, menikmati hidangan yang tersedia. Disertai suguhan hiburan dari perempuan-perempuan yang memang mempunyai tugas sebagai pembangkit semangat kami, para prajurit. Aku dan ia duduk berjejer bersama. Lalu tak lama setelah makan malam, aku melihatnya pindah duduk di dekat tendanya, meninggalkan rombongan prajurit yang sedang bersenang-senang.

 Seorang dari perempuan-perempuan itu berjalan mendekatiku, dan berkata: “apakah kau butuh teman?” Aku balas pertanyaannya dengan senyumku, yang berarti bagi perempuan itu adalah sebuah jawaban persetujuan. Perempuan yang mendekatiku ini, memang sungguh sangat anggun. Aku suka gayanya. Kupikir, dia perempuan yang cerdas. Pembawaannya sangat apik. Di samping ia sangat cantik dan sexy. Kemudian kami berbincang sebentar sebelum akhirnya aku ditariknya masuk tenda untuk mendapatkan hiburan yang lain lagi.

 Sekilas kulihat ia sebelum masuk tenda. Masih duduk di sana dalam kesendiriannya. Tapi, tak kuhiraukan lagi, perempuanku sudah tak sabar lagi rupanya. Di dalam tenda kami berdua, dan hanya berdua saja. Dalam kelembaban embun malam berusaha saling menghangatkan.

***

Malam sudah sedemikian larut. Aku terbangun di samping perempuanku yang masih tertidur lelap berselimut mimpi-mimpinya. Aku keluar, sulit tidur lagi sekarang. Kutinggalkan perempuanku sendirian dalam tidurnya yang lelap. Aku melihatnya masih duduk dalam kesendiriannya di sana, tempat yang sama, di pojok dekat tendanya.

“Hai!” Kucoba menyapa orang itu. Dia menoleh padaku.

“Hai!” Balasan darinya.

“Masih belum tidur?” Tanyaku kemudian.

“Belum.” Kulihat tangan kanannya memegang pena, dan tangan kirinya memegang selembar kertas.

“Sedang menulis surat?”

“Iya.” Dan ia masih sibuk dalam imajinasinya perihal apa yang akan ditulisnya kepada seorang yang akan dikiriminya itu. Sebentar kemudian ia berkata, “kau sendiri, mengapa belum tidur?”

“Sudah, dan kebetulan aku terbangun. Sulit sekali untuk tidur lagi,” jawabku, “besok penyerangan akan dilakukan. Kita jadi satu tim sekarang. Kukira kita bisa berkenalan sekarang.”

“Apakah perlu kita berkenalan, sementara aku tak tahu apakah aku besok bisa kembali bercakap-cakap denganmu lagi?” Aku terkejut mendengar komentarnya, kupikir aku tak salah menyebutkan kata-kataku.

“Maksudku, apakah perkenalan kita penting, karena besok kita tak bisa saling akrab kembali. Karena mungkin saja dalam penyerangan kali ini aku akan terbunuh dalam medan pertempuran. Hidup ini singkat, jadi kita lakukan saja hal-hal yang penting.”

“Apakah perkenalan kita tak kau anggap penting?”

“Ya.”

“Kenapa kau beranggapan begitu? Mungkin saja kita berdua besok tidak mati, dan kita sukses dalam penyerangan. Kita bisa akrab kembali. Siapa yang tahu masa depan?” Jawabku.

“Baiklah, jika kau anggap itu penting. Namaku: Ginof titik tak pakai embel-embel apapun.” Aku tertawa mendengarnya.

“Aku Buzzel. Ronald Buzzel dan pakai titik tak pakai koma dan segala macam embel-embelnya.” Aku membalasnya demikian. Kami pun tertawa. Kamipun bercerita tentang macam-macam hal. Ngalor-ngidul, pembicaraan yang amat melelahkan, tetapi bagiku membuat fresh. Menemukan sesuatu yang baru dalam hidup yang tak kutemui dalam hidupku. Tidak seperti yang kupikirkan, dia begitu hangat.

Lalu ketika kutanya padanya alasan mengapa dia bergabung menjadi martir, jawabannya hanya sederhana,  singkat dan mengejutkanku: “Aku ingin melamar seorang gadis.”

Mendengar jawaban darinya, aku terheran-heran. Singkat dan sederhananya. “Apa?! Kau menjadi martir karena hanya ingin melamar seorang gadis? Kenapa kau melakukan hal demikian? Ayolah kau pasti bergurau, kan?” Tanyaku bertubi-tubi.

“Tidak!! Sungguh Tidak!!!” Lalu keadaan mulai hening.

Aku menatap ke angkasa. Gelap. Hanya bintang-bintang bersinar terang, banyak sekali. Aku tak percaya dengan kata-katanya. Mengapa harus sampai begitu? Hanya karena ia ingin melamar seorang gadis. Kupikir itu tak mungkin, dan sangat tak mungkin. Bukankah jika dia ingin melamar seorang gadis, dia tak perlu menjadi martir. Cukup dengan menjadi seorang yang berguna bagi diri si gadis dan kemudian mereka akan hidup bahagia bersama selamanya. Ya, begitu seharusnya.

“Mungkin kau takkan percaya,” katanya lagi, “tapi ini cerita benar.” Hening lagi sebentar. “Dulu aku pria bodoh, yang tak tentu juntrungan, tak memiliki arah tujuan hidup yang jelas. Tetapi, setelah aku mengenal gadis itu, aku jadi memiliki tujuan untuk hidup. Kami sudah saling mengenal bertahun-tahun lalu, namun kami bertemu beberapa tahun silam. Ketika aku sedang berdoa di bawah pohon, seorang gadis berjalan sendirian di depanku. Baru kali pertamanya aku melihat gadis seperti itu, terlalu hebat untuk kulukiskan, wajahnya, bibirnya, dan segala yang ada padanya adalah suatu kesempurnaan yang telah diciptakan Tuhan. Dan setelah gadis itu sudah tak tampak dalam jangkauan mataku, terdengar suara jeritan keras sekali. Segera aku berlari mendekatinya. Kemudian kutemukan gadis itu dalam kepungan beberapa pria hidung belang di dekat kebun pisang. Mereka berempat mencoba untuk menggerayah pakaian gadis itu. Mungkin mencoba untuk memperkosanya, aku tak tahu pasti. Karena aku segera berlari ke arahnya dan membaku hantam keempat pria itu, hingga mereka tunggang langgang… kebetulan aku sedikit pintar berkelahi.”

“Lalu?”

“Setelah kejadian tersebut kami menjadi akrab, dan akhirnya aku ingin melamarnya. Namun orang tuanya tak merestui hubungan kami. Yah, kau tahu sendiri, aku adalah pria bodoh waktu itu, kerjaku tak tentu juntrungannya. Mereka bilang, jika aku ingin melamar anak gadis mereka, maka yang pertama harus kau lakukan adalah bekerja, punya penghasilan yang tetap.

“Kemudian aku berputar-putara mencari lowongan pekerjaan. Setelah kesana-kemari aku mencari pekerjaan, ternyata tak ada yang kudapat. Bagaimana mungkin aku mendapat pekerjaan, sedang satu keahlian saja, aku tidak memilikinya. Dan dia menjadi bosan menungguku, karena aku sendiri tak jelas. Lagi-lagi tak jelas juntrungannya. Lalu, akhirnya aku mendapat kesempatan, ketika kubaca iklan di sebuah koran lokal negara sedang membutuhkan para relawan untuk menjadi martir di garis depan. Berangkatlah aku mendaftar, dan ternyata aku diterima. Tetapi, sayang dia keburu pergi.”

“Kenapa?” Tanyaku.

“Mungkin dia tak ingin menungguku, apalagi dalam ketakpastian. Kabar terakhir kudengar dia akan menikah dengan seorang laki-laki kaya. Sebenarnya, aku ingin sekali mengirimkan surat-suratku padanya, dan menceritakan bahwa aku sekarang sudah bekerja, sebagai martir.”

“Kupikir itu lebih baik.”

“Tapi, tiap kali ingin kulakukan hal tersebut aku takut dia kecewa padaku. Aku semakin rindu padanya dan ingin cepat-cepat pulang menemuinya, tetapi aku ingat, tugasku ini belum selesai. Jadi tak pernah kukirimkan surat-suratku.”

“Lalu mengapa kau menulis surat sekarang?”

“Oya, sekarang kutitipkan surat-suratku ini padamu. Jika dalam penyerangan besok aku terbunuh, maka tolong berikan surat-surat ini padanya.” Kemudian dia  menyerahkan berlembar-lembar kertas.

“Mengapa kau percayakan ini semua padaku? Bukankah kita dalam satu tim, aku juga mempunyai kemungkinan yang sama denganmu bukan? Kita tak pernah benar-benar tahu masa depan bukan?”

“Sudahlah aku percayakan ini semua padamu!!”

***

“Serbuuu!!!” Teriak komandan pleton memberi aba-aba pada kami. Kami maju serentak setelah aba-aba tersebut.

“Sekarang kita adalah martir-martir itu,” teriak Ginof seraya terus berlari menuju medan perang. Aku mengikuti di belakangnya. Dor … dor … dor. Letusan itu terdengar keras sekali. Berulang-ulang. Dia ambruk …

***

Aku mencari alamat perempuan yang dimaksud Ginof. Tak sulit bagiku, karena rumah perempuan tersebut dekat dengan jalan raya. Kuketuk pintu rumah tersebut. Seorang wanita cantik keluar dari dalamnya. “Permisi benarkah ini rumahnya Nona  Sekar?”

“Benar, saya sendiri,” jawab perempuan itu.

“Maaf ini titipan dari Ginof untuk Nona Sekar.” Lalu kuserahkan berlembar-lembar kertas surat. Tak lama kemudian perempuan itu menangis tersedu.

“Maafkan aku Ginof! Maafkan aku Ginof! Tak pernah mempercayaimu! Aku masih mencintaimu!” 

Lalu aku pergi, meninggalkan perempuan itu sendiri saja. Entahlah mana cerita yang benar.[]
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Cinta: Martir"

Back To Top