T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Horor: Padi Patah, Tak Bertumbuh Lagi

“Aku tak percaya kepada cinta lagi,” begitu kata-kata terlontar dari mulut Iwan padaku sore hari ini. “Tiap kudekati seorang gadis, seketika itu pula mereka pergi meninggalkanku,” katanya melanjutkan.

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti dengan apa yang dibicarakannya tiba-tiba itu.

“Yah, aku takkan mencintai seseorang gadis lagi!”

Aku memperhatikannya. Tangannya mengepal keras-keras, urat-urat di air mukanya menegang kaku. Ia bersedih. Hatinya terluka, tergores. Entah oleh siapa.


Aku hanya diam menyaksikan tingkah Iwan demikian, Kawan sekosku itu. Takut salah bicara. Maklum, meskipun sudah berumur duapuluhdua tahun, bicara mengenai perempuan aku nol besar. Aku belum pernah terlibat cinta yang demikian dalam dengan seorang gadis. Belum pernah pacaran pula. Paling-paling hanya sebatas ngefans, itupun dalam hati. Kasih Tak Sampai, katanya Padi. Ya, aku memang fans berat Padi, grup band asal Surabaya itu. Huh, menyedihkan bukan? Aku bukannya tak mau menjalin hubungan dengan seseorang, aku takut. Yah, seperti temanku ini. Makanya, aku tak berkomentar apa-apa.

Langit mulai tergeser waktu menjadi senja. Di teras, depan kos kami ini, kami sering berbincang dengan kawan-kawan yang lain juga. Apa saja, termasuk masalah khusus laki-laki: tentang perempuan. Duh, berapa besar sih isi kepala ini? Kenapa yang dibicarakan selalu tentang perempuan di lingkungan ini. Apa tak ada hal lain yang lebih penting untuk dibicarakan? Sudahlah, aku bingung.

Kulirik lagi kawanku ini, air mukanya masih menunjukkan kesedihan yang mendalam. Aku beranjak dari dudukku. Sebelum pergi meninggalkannya, aku sempat berpesan, mencoba sedikit untuk membesarkan hatinya. “Sudahlah tak usah kau pikirkan lagi dia. Cari yang lain saja, yang lebih cantik, seksi, dan lebih baik darinya.” Kemudian kutepuk-tepuk pundak kirinya. Ia tetap tak bergeming. Tak bergerak sedikitpun, barangkali pikirannya masih menyeruak-ruak tentang perempuan itu, khayalan bisa terbang dan menari indah bersamanya di awang-awang.

Aku tersenyum kecut saat meninggalkannya. Suara adzan terdengar bertalu-talu dari segala penjuru Yogyakarta. Hari telah memasuki maghrib. Aku menuju kamarku, berganti baju untuk bersiap-siap sholat di masjid.

”Hei, kamu sholat nggak, Wan?” tanyaku ketika keluar masih mendapati ia diam saja. Menerawangkan matanya.

Tak seberapa lama kemudian lima orang penghuni kos lainnya, yang baru pulang sehabis maen bola di lapangan kampus. Mereka menyapaku dan menyapa Iwan. Lantas kutinggalkan Iwan. Kupikir kedatangan kawan-kawan lainnya akan mengubah keadaan mood-nya. Lagipula ia mulai bicara dan tersenyum dengan obrolan kawan-kawan, meskipun masih menerawang.

***

Sudah dua hari aku tak di kos. Aku pergi lantaran ada tugas penelitian di luar kota bersama kawan-kawan sekelas. Dan hari inilah kami pulang. Dalam perjalanan pulang ini, aku sudah berkeinginan kuat akan tidur nyenyak di kamar kos, melepaskan semua kepenatan yang telah berlangsung selama dua hari ini. Kubayangkan semua itu di dalam batok kepalaku. Betapa nikmatnya. Aku tersenyum. Namun itu tak lama.

Sesampainya di jalan dekat kos, kulihat kerumunan orang banyak ada di sana. Entah dari mana saja mereka berdatangan. Tapi hal yang mengejutkanku kemudian adalah berita tentang kematian Iwan yang diceritakan Fajar padaku. Inalilahi wainnailahi roji’un. Kuhela nafasku yang tiba-tiba menjadi sesak. Ironis, tragis sekaligus konyol. Mengapa Iwan melakukan hal itu? Kerdil sekali pikiran itu. Segala pikiran carut-marut berkecamuk di dalam kepalaku.

Aku masuk untuk melihat jasad Iwan. Iwan mati menggantung dirinya sendiri di dalam kamar. Sudah dua hari ini ia meninggal dan baru diketemukan hari ini. Kabarnya, ia gantung diri saat aku pergi. Salah seorang penghuni kos yang menemukannya, Anang. Waktu mau ke kamar kecil, ia lewat depan kamar Iwan. Dan di saat itulah ia mencium bau busuk dari kamar Iwan. Awalnya ia menggedor-gedor pintu kamar Iwan. Tapi karena tak dibukakan, ia memanggil teman-teman yang lain. Karena ia tahu betul Iwan ada di kamarnya. Setelah ia berhasil mengumpulkan kawan-kawan yang lain, pintu kamar Iwan didobrak. Yah, keterangan lengkapnya aku tak memperhatikannya lagi. Aku bergidik melihat tubuh Iwan. Merinding. Bulu kudukku meremang. Garis police line sudah membatasi kamar Iwan.

Seorang gadis putih tinggi semampai berparas cantik datang mendekat. Otak lelakiku keluar dan menilai gadis cantik ini. Gadis tercantik yang pernah kulihat. Kutinggalkan kamar Iwan. Samar-samar kudengar dari beberapa orang yang berkumpul, bahwa gadis tersebut adalah gacoan Iwan yang menolaknya.

“Sumpah, berani mati aku mendapatkan cewek itu,” tukas Mualim pada Fajar, Anang, Haris, Nasution dan Chandra. Mengomentari gadis tinggi semampai itu yang lewat di hidung mereka itu.

Pernyataan itu lantas ditanggapi oleh Fajar, ”Berarti kau niat menyusul Iwan selekasnya?” Lantas tawa-tawa kecil memenuhi udara.

***

Kenyataannya, besok seluruh penghuni kos bersiap pindah kos semuanya, termasuk aku. Setelah acara pemakaman selesai, aku dan teman-teman akan pergi meninggalkan kos. Dan aku melihat gadis tinggi semampai berparas cantik itu lagi.

Aku pun melihat ranting sebuah pohon patah dan kemudian jauh ke tanah. Pikiranku semakin kacau mengingat lirik lagu Padi, Patah. Aku semakin takut terlibat masalah cinta. Oh, cinta, dayamu sungguh memesona manusia.[]
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Horor: Padi Patah, Tak Bertumbuh Lagi"

Back To Top