T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Sedih: Bergema

Hari sudah menjelang sore ketika aku masuk gudang tua yang terletak di belakang rumahku. Kunyalakan lampu untuk memberikan cahaya terangnya. Terbelalak aku melihat gitarku ada di sana. Ternyata gitar itu tak hilang atau dibuang, ia ada di sini. Lalu aku segera mengambilnya dan membersihkan gitar kopong itu dari debu. Aku lihat ke dalam lobang gitar itu, tersembul merk terkenal Yamaha C-100. Merk yang keren pada masanya dan masih sangat murah sekali. Bayangkan dengan uang sebesar 100 ribu, kita sudah bisa membeli gitar terbaik. Sekarang? Hmm, jangan ditanya... bisa sampai 500-an ribu lebih. Aku nggak tahu.

Setelah gitar kopong itu berhasil kubersihkan, aku memetik dawainya satu per satu. Sebuah perasaan halus menyergapku. Alunan suaranya masih selembut dahulu, meski sudah agak bampet* lantaran terkena lembab. Aku mencoba memainkan nomor lawas Led Zeppelin, “Stairway to Heaven”. Terpesona aku menikmatinya. Tapi tak sampai habis, aku segera berhenti. Lalu kujauhkan gitarku. Kuperhatikan bentuknya. Belum ada cacat di bagian manapun. Padahal sudah 10 tahun berselang sejak gitarku ini dinyatakan hilang oleh ibuku.

Ibu yang tak menyukai aku bermain musik, tiba-tiba saja mengatakan bahwa gitarku sudah dijual di tukang loak. Aku yang baru pulang hanya bisa terperanjat mendengar perkataannya.

“Gitarmu sudah ibu jual di tukang loak,” katanya dingin, “Ini uang hasil penjualannya.”

Hah, kaget aku dibuatnya. Cuma 10.000 perak? “Ibu bagaimana mungkin gitar itu ibu hargai 10.000 perak? Gitar itu harganya 100.000!”

“Itu kalau baru. Tentu saja penjual loak itu takkan mau membayar 100.000 untuk gitarmu yang butut itu.”

Terus terang aku sedih mendengar perkataan itu. Tak ada yang bisa dibantah dari ibuku. Ia seorang ototiter sejati. Sedangkan aku hanya anak kecil berumur 11 tahun yang sedang menggandrungi kegilaan musik dunia.

Keluargaku bukan dari kalangan pemusik. Tidak ayah. Tidak ibu. Tidak orang tua mereka sebelumnya dan sebelumnya lagi. Tidak. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengajarkan kepada kami anak anaknya, bahwa hidup adalah untuk bekerja. Bukan untuk disia-siakan dengan genjrang-genjreng tak keruan di malam buta dan membuat bising orang lain. Hidup adalah kedisiplinan. Tapi aku lain. Aku bocah ingusan yang ingin bergerak di dalam geliat musik.

***

Aku ingat pertama kalinya aku mencintai musik. Waktu itu masih kelas dua smp di salah satu smp negeri di lobang buaya, jakarta timur. Sebenarnya aku mulai menyukai musik sudah dari kelas satu, tapi waktu itu kuanggap musik masih mengganggu telingaku. Sekitar tahun 1996-an, dewa 19 (masih format ari, andra, edwin, dhani dan wong aksan) meluncurkan album pandawa lima, yang jadi hits adalah lagu kirana.

Lagu tersebut seringnya diputar di televisi-televisi. Dan kawan-kawan juga sering mendendangkannya, maka aku jadi hapal liriknya. Terus teringang-ngiang di dalam kepalaku. Terus saja begitu. Tak pernah mau hilang. Sampai-sampai ketika mau tidurpun lirik-lirik lagu kirana terus berdendang di dalam kepala, begitupun musiknya. Aku memaki: cumi! Kenapa nggak mau ilang sih ini musik? Pikirku saat itu. Gila! Aku nggak bisa tidur...aku merutuk-rutuk terus dalam hati. Duh, kirana-nya dewa teringang-ngiang nih, omelku sendiri. Meski akhirnya bisa tidur, tapi sudah larut sekali. Dan besoknya aku bangun sampai mengantuk dan agak terganggu belajar di sekolah.

Itu dulu waktu masih kelas satu. Aku membenci musik karena membuatku tidak bisa tidur. Membuat hidupku sengsara saja. Namun begitu aku naik ke bangku kelas dua, segala pikiranku berubah. Baiklah kuceritakan saja bagaimana aku mulai menyukai gitar hingga tergila-gila seperti sekarang ini.

Malam itu aku dan empat orang kawan (yudis, bakoy, adang, dan septin) sedang kongkow di tanah lapang. Yah, lapangan yang biasa buat main bola sama anak-anak. Malam itu langit cerah, banyak bintang bersinar kerlap-kerlip di hitamnya langit. Bakoy unjuk gigi menyanyikan salah satu dari hits tembang lawasnya iwan fals “barang antik”. Meski agak sumbang-sumbang dinyanyikan olehnya (yah mirip penembang aslinya yang bersuara sumbang), lagu itu tetap enak dinyanyikan di udara dingin seperti ini. Lagi pula lagu apapun yang dinyanyikan oleh anak-anak seusia kami memang asoi-geboi. Kami nggak peduli kami bisa menjadi apa, asal kami bisa berteriak-teriak kami sudah senang.

Sejak malam itu hari hariku selanjutnya selalu dipenuhi dengan hasrat bermusik. Khususnya instrumen gitar. Kemudian aku meminta ayahku untuk membelikan sebuah gitar kopong, yah yang murah-murah juga nggak apa apalah, pintaku waktu itu. Permintaan ini sekaligus sebagai pengganti dari apa yang pernah ia tawarkan padaku, yaitu sepatu bola. Sebelumnya aku ingin dibelikan sepatu bola olehnya, tapi aku nggak suka maen bola, kecuali terpaksa aja. Karena itu tawaran itu aku tampik. Dan setelah aku menyukai musik. Aku minta dibelikan gitar aja. Akhirnya keinginan itu terpenuhi. Gitar pertamaku: osmond. Sebuah merek dagang yang jauh kualitasnya dibanding yamaha. Ah, sebodo ah, asal bisa ngegenjreng genjreng sampai puas. Nah begitulah ihwal pertama aku menyukai musik. Kegilaanku. Hasratku. My hobies.

Setelah makin lama begini main musik, aku jelas mulai lincah memetikkan dawai-dawai pada gitarku. Dan mimpiku pun melambung tinggi. Aku ingin jadi rockstar. Itu juga karena yudis memperkenalkan sebuah kaset mr.big padaku. “Ri, coba kamu dengerin ini musik, dashyat! Gila, rumit banget, abang aku bisa maininnya. Aku nguliknya susah. Nih aku pinjemin, siapa tahu bisa.”

Live at budokan nama album yang yudis pinjamkan padaku itu. Aku antusias sekali mendengarkan tiap-tiap melodinya. Betul-betul memukauku, yang pada awalnya hanya tahu kancah musik indonesia dengan tokoh-tokoh tertentu, macam dewa, wayang, bragi, pas band, gigi dan lainnya. Namun lewat album itu, tentu saja wawasanku bertambah luas. Permainan solo yang dimainkan paul gilbert—eks gitaris racer-x, yang gitaris pertamanya, sangat mempengaruhiku. Awalnya aku nggak mengerti apa itu permainan instrumental, tapi lama lama aku juga paham, karena sering mendengarkan. Speed teknik dan kualitas tinggi, argh agak bunek juga aku mendengarkan irama yang seperti itu. Belakangan aku menyukai joe satriani dan steve vai.

Busyet, nggak mungkin aku bisa. Telingaku tak cukup mampu mendengar kecepatan melodinya. Shit, aku merutuk dalam hati. Bagaimana mungkin ini? Aku tak patah arang, aku mencoba terus dan terus. Latihan dan latihan. Gitar kopong jadi saksiku. Ia merupakan sahabat terbaikku. Tak pernah aku berputus padanya, seperti aku berputus dari pacar-pacarku. Hingga akhirnya aku bisa menjadi shreder. Merasa keren dan takjub, seolah tak percaya. Aku jadi gampang saja mendengar melodi siapapun dan kutirukan dengan mudah. Itu terjadi kala aku bermimpi ketemu sama sosok dewa gitar dengan perwujudan sinarnya. Dalam mimpiku, sang dewa gitar berkata padaku, “kau akan jadi gitaris hebat!”

Jujur aku senang sekali mendengarnya. Dan ketika aku bangun pagi-pagi, seluruh pikiranku jernih. Otakku terasa ringan. Aku juga merasakan perubahan pada suhu tubuhku. Jari-jemariku juga serasa lincah saja, selalu ingin menari-nari. Tak terkecuali di dalam rumah, di dalam kelas pun pikiranku selalu tertuju pada satu hal: musik. Nada-nada mulai muncul bergantian silih berganti, beriringan.

Aku pun memamerkan ini pada yudis. Seperti biasa, anak anak kompleksku sering mengadakan kumpul kumpul dan berdiskusi mengenai musik. Juga berdiskusi tentang perkembangan skill tiap-tiap individu. Aku juga mulai ngeband waktu itu. “Dis, aku telah berhasil menguasai teknik solonya paul gilbert di album yang kau pinjami itu.”

“Benarkah?” tanyanya antusias.

Aku mengangguk. Lalu sejurus kemudian aku tancapkan kabel gitarku pada ampli. Dan meraung-raunglah suara serak gitarku dari ampli itu. Diiringi tepuk tangan. Tak ketinggalan decak kagum mereka. Aku merasa di atas angin. Keren sekali. Tapi mereka pun tak kalah. Mereka juga semakin lihai bermain musiknya.

Tapi aku tak mendapat restu ibuku. Akhir caturwulan nilaiku ancur berantakan. Tak ada yang bersisa hampir rata-rata nilaiku merah. Aku tinggal kelas. Kegagalan ini membuat murka mereka.

“Dasar anak tahu diuntung! Kau sudah lumayan bisa bersekolah, malah sok-sokan maen musik segala! Mau jadi apa kamu? Mau jadi pemusik yang hidupnya nggak jelas itu ya?” maki ibuku. Jujur, aku sedih. Tapi ia ibuku, titah segala perintah. Tinggal dialah yang aku punya. Puncaknya terjadi saat gitarku dinyatakan sold out oleh seorang tukang loak, hanya dengan 10 ribu perak.

Aku tersenyum. Memandangi gitar ini. Yah, meski kini aku tak bermain musik lagi. Tak bermain musik lagi. Tapi rock n roll belum mati dalam diriku. Sementara jam sudah menunjuk angka delapan. Sudah saatnya aku beranjak dan kembali merayapi malam.[]

__________
* Tidak bersuara nyaring
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Sedih: Bergema"

Back To Top