T h e P o w e r o f L o v e

Lamunan dalam Guyuran Hujan

Jam di pergelangan tanganku menunjuk angka lima. Sore, saat hujan mengguyur kota Yogya. Begitu derasnya sehingga aku menjadi salah satu dari banyak orang yang meneduh di perko dari derasnya guyuran air hujan. Aku sendiri berdiri menatap orang-orang yang berlari meneduh dari guyuran air hujan yang turun membasahi tubuh mereka. Lamat-lamat pula kulihat beberapa orang yang bersikeras memacu gas motornya berderu di jalanan dalam derasnya hujan. Aku sendiri, entah kenapa memarkirkan motor untuk berteduh dari guyuran hujan, dan kenapa aku tak bersikeras seperti orang-orang itu.

Entahlah, aku tak tahu. Barangkali aku tidak seperti mereka yang sedang terburu untuk sampai ke rumah, sebab istri atau suaminya sedang menunggu di rumah dengan was-was atau bayinya sedang menangis menanti sang ayah atau sang ibu pulang dari kerja. Atau mereka niat apel ke rumah pacarnya takut telat, lalu buru-buru karena takut diputus akibat ngaret. Atau mereka sedang ada janji bisnis yang penting, takut ordernya lepas dari tangan. Makanya, mereka tetap memacu gas motor mereka menuju tujuannya masing-masing. Tapi, entahlah, otakku hanya mampu menerka-nerkanya saja. Lalu aku melamun. Membayangkan seberkas ingatan tentang hal yang sudah lalu, yang mendadak muncul kembali di kepalaku. Ingatan yang sebenarnya ingin kuhilangkan tanpa bekas.

***

Bukan hanya kali pertama ini saja aku melihatnya. Sosok itu masih sama seperti hari-hari kemarin. Seperti biasa, duduk sendiri di bawah pohon rindang berteman debu dan daun-daun kering yang berserak. Pandangannya terfokus pada satu titik, buku lusuh di tangannya. Aku sendiri tak begitu punya alasan kuat kenapa aku memperhatikan sosok itu. Sejauh yang bisa kulihat tidak ada yang istimewa padanya, kecuali sorot matanya yang tajam. Di mataku, sorot mata dari sosok itu menyimpan sejuta kemisteriusan, seolah menantangku untuk menelusurinya. Seakan tahu diperhatikan sosok itu mengangkat kepalanya yang sedari tadi tenggelam dalam buku lusuh itu. Aku terkejut, mata kami saling bertemu pandang. Ia tersenyum penuh makna, tapi sulit kuterjemahkan maknanya. Hanya sekilas ia tersenyum setelah itu ia kembali tenggelam dengan keasyikannya. Takut mengusiknya aku bergegas melangkah pergi, meninggalkannya sendirian menerjemahkan alam.

“Namanya Mono, Sismono lengkapnya, anak kelas III jurusan IPA … orangnya pendiam, jago sastra.” Terang Vinda teman sekelasku. Entah sejak kapan dia ada di belakangku.

“Ooo … seniman tho? Pantes aja orangnya aneh!” tukasku kemudian.

“Ya, sebut aja begitu. Anak baru, pindahan dari Pemalang. Hati-hati lho orangnya kasar?”

“Ah, masak sih?!”

Hari ini aku ke perpus ada tugas dari Pak Fredy, guru sastra Indonesia yang killer habis.

“Ada perlu apa Non Rena? Kok masih jam segini sudah kemari?” Pak Slamet berujar ramah, “biasanya juga habis pulang sekolah?” Pak Slamet adalah penjaga perpus sekolahan, dia yang biasanya mengatur keluar-masuk buku-buku yang akan dipinjam siswa.

“Mau cari bukunya tentang puisi-puisinya … ngg …”

“Chairil Anwar?!” Lanjut pak Slamet mencoba meneruskan.

“Ah, iya. Ada?!”

“Tuh …” tukasnya sembari menunjuk pada seseorang yang sedang memegang buku itu. Ah, ternyata sosok itu. Sosok yang biasa kuperhatikan. Lagi-lagi ia tengah tenggelam dalam keasyikannya tanpa mempedulikan sekelilingnya.

“Aduh bisa minta tolong mintain nggak pak Slamet?”

“Wa … kalau itu saya nggak berani non. Abis kan dia duluan yang pegang, jadi itu sudah menjadi haknya dia sampai batas waktu yang disediakan.”

Aku jadi bingung. Gimana ya? “Kalau yang lainnya pak?” tanyaku lagi.

“Hmm … yang lainnya, tadi sudah dipinjem sama teman-temannya non Areta, kalau nggak salah si trio kwek-kwek yang bawel-bawel itu, Vinda, Ana, sama Neny, dan yang satunya dipegang dia … yah, maklum aja kalau kehabisan. Abis di sini buku-buku untuk kebutuhan siswa memang tidak banyak, perpus ini saja terlalu kecil untuk sekolahan ini… Ruangnya saja uh… sumpek. Aduh, gimana ya non, kok saya jadi cerita tentang perpus ini. Tapi, mau bagaimana lagi, emang begitu kondisinya…”

Kutinggalkan pak Slamet yang terus saja bercerita panjang lebar tentang keadaan perpus ini. Aku berjalan, mencoba mendekati sosok, yang pernah disebut kawanku bernama Sismono itu. Kali saja dengan speak sedikit, dia mau mengerti tentang keadaanku untuk meminjam buku itu sampai pulang sekolah. Kupikir dia bisa diajak kompromi, apalagi dia pernah tersenyum padaku.

“Permisi,” sapaku akrab. Yang merasa kusapa menengok ke arahku. Tajam, mata itu sangat tajam. Menusukku hingga ke ulu hati. Aku langsung deg-degan. Punya ilmu apa dia?

Dia diam saja menatapku dengan sinis, lalu berkata, “Kamu siapa? Terus mau apa?”

Deg!!! Aku terkejut dengan kata-katanya barusan. “Nama kamu Mono kan? Aku Areta,” aku mengulurkan tanganku tapi tak digubrisnya, “begini, Mon, eee … aku boleh pinjem buku yang kamu baca nggak?” Aku mencoba sabar. Pikiranku sudah tak keruan melihat polah bocah ini. Baru ini kali aku bicara dengannya.

“Kamu nggak melihat apa? Aku kan sedang membaca buku ini!”

“Iya, aku tahu … tapi bisa nggak pinjam bukunya, sebentar saja, please! Nanti pelajaran sastra Indonesia, kalau aku nggak bawa bukunya aku bisa distrap.”

“Itu urusan kamu.”

Lalu aku menengok ke arah pak Slamet, mencoba meminta dukungannya. Tapi, pak Slamet hanya mengangkat bahunya saja. Ah, sial berurusan dengan bocah ini. Mungkin ini hari sialku. Kutinggalkan perpus dengan lemas, kubayangkan hukumanku. Benar saja pak Fredy menghukumku, berdiri di depan kelas sampai pelajaran usai. Tanpa seorang teman pun yang menemani. Sedih rasanya mendapat hukuman sendirian.

Lalu mataku menerawang keluar dari jendela-jendela ruang kelasku. Dia berjalan melewati kelasku. Tangan kanannya memegang buku yang seharusnya ada di tanganku. Buku itu, ya gara-gara buku itu aku distrap. Di mataku dia bukan lagi sosok misterius yang menyimpan sejuta rahasia, aku benci dia.

***

Sudah tiga hari aku tak melihatnya. Jujur aku merasa kehilangan, tapi aku tak punya alasan untuk itu. Untuk apa coba? Toh aku membencinya. Tapi tanpa kehadiran dirinya jajaran pohon-pohon rindang itu serasa tak genap, debu-debu yang biasa menari seolah kehilangan tempat untuk disinggahi. Hari keempat ia menghilang, tiba-tiba ia muncul. Tidak seperti biasanya, tak lagi ia terduduk di bawah pohon itu, tak lagi dibacanya buku lusuh itu. Pandangannya kosong, sekarang ia terduduk di bawah pohon kamboja dekat kantin, sementara tangannya mempermainkan anak kunci yang ada dalam genggamannya. Entah, apa yang ada dalam pikirannya, toh itu bukan urusanku, pikirku. Lagipula siapa dia? Seseorang yang kubenci. Aku juga harus menyelesaikan tugas-tugas OSIS yang masih menumpuk. Buang-buang waktu saja mereka-reka apa yang ada dalam pikirannya, sementara aku tidak tahu asal-usulnya.

Sosok itu, tiga jam telah berlalu, tapi ia masih saja dalam posisinya saat aku jalan melintasi tempatnya. Dia asyik dengan dirinya sendiri, mungkin saja ia tak peduli dengan lalu-lalang orang-orang yang ada disekitarnya. Juga denganku.

Sial, tugas pak Fredy lagi. Lagi-lagi aku ke perpus untuk meminjam buku yang sama. Dan ketika kutanyakan lagi pada pak Slamet buku yang sama, ternyata sama seperti sebelumnya. Buku itu telah berada di tangan sosok yang katanya Vinda bernama Sismono.  Aduh, gimana ini? Aku pasti distrap lagi! Lagian kenapa sih nggak kufotocopy saja. Ah, mencoba berharap dari sosok itu lagi. Jangan-jangan bukan hanya makian saja yang kudapat tapi perlakuan yang tak semestinya lagi, pikirku. Huh, mengerikan.

Tapi di luar dugaanku, sosok itu menepuk pundakku. “Hei!!” Aku menengok,“apa kamu membutuhkan ini,” katanya sambil menunjukkan bukunya, “nih pakai saja.”

“Hah?!”

“Cepat ambil sebelum aku berubah pikiran!” lalu dia beranjak pergi, setelah meletakkan buku itu di meja.

“Jangan kau kira aku akan berterimakasih padamu.” Aku mencoba bertahan darinya.

“Tak usah kau lakukan itu, aku hanya sedih saja melihat cewek secantik kamu … distrap sendirian.” Kemudian tak ada percakapan lagi. Hening …

***

Setelah ini semua tak ada percakapan antara kami lagi, tapi aku masih selalu saja melihatnya duduk di bawah pohon rindang berteman debu-debu dan daun yang berguguran. Sambil memegang buku lusuhnya. Hingga aku lulus SMU. Yang tak bisa kupungkiri, ada perasaan aneh di hatiku. Aku jatuh cinta padanya di samping aku membencinya pula. Aku cinta padanya, dia cinta pertamaku. Entah, karena apa?

Ya, hingga kini perasaan itu ada. Walau sudah tak pernah kulihat lagi dia sekarang tapi raut wajahnya masih membekas dalam bayanganku. Jam di pergelangan tanganku menunjuk angka 17.47 sore. Langit di kota Yogya kini berpendar merah-keoranyean, hampir tiba waktu maghrib. Hujan kini sudah reda, orang-orang yang tadi berteduh sudah pulang. Yang membawa motor ada yang masih memanaskan mesin motornya, yang berjalan sudah melenggos pergi entah kemana. Dan aku sendiri juga sedang memanaskan mesin motorku. Ketika hendak kutancapkan gas motorku tiba-tiba dari belakang seseorang memegang pundakku dan …

“Hai, masih ingat sama aku?” Tukasnya.

Hah … Sosok itu? Bagaimana aku bisa lupa dengannya? Cinta pertamaku. Ah, betapa sempitnya dunia.[]
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Lamunan dalam Guyuran Hujan"

Back To Top