T h e P o w e r o f L o v e

Viani, Cinta Sejatikukah?

“Viani,” ujar cewek itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku tersenyum menyambutnya. Viani juga tersenyum memperlihatkan jajaran gigi putihnya. Aku mencoba meraba-raba maksud dari senyumnya itu. Kosong, tak kutemukan sesuatupun. Kemudian dia membelakangiku, dan tak lama kemudian ia berbalik menghadapku. Lama kemudian ia berkata, “kamu tahu betapa indah hari ini?Aku … Aku mencintai kamu Gus!” Aku kernyitkan dahiku.

Dok. Dok. Dok. “Woi Gus bangun!!” Teriak suara seseorang dari luar, “Elo mau kuliah gak?” Aku mengerjapkan mataku, sudah pagi rupanya. Sial lagi lagi mimpi, gerutuku. Ini sudah kali ketiga. Jamku menunjukkan pukul 09.00 Wib. Aku segera melompat dari kasurku. Setelah kubuka pintu kamar, kudapati Xecell sedang menunggu diluar kamar.

***

Saat mata kuliah sejarah dan sastra aku gak bisa konsentrasi, terganggu dengan mimpiku tadi. Entah kenapa aku memikirkannya, sepertinya aku mengenal cewek itu. Tapi dimana? Seingatku aku gak pernah punya teman cewek bernama Viani. Pasalnya sudah beberapa hari ini aku bermimpi bertemu dengan cewek itu.

Kelas selesai lamunanku selesai, tepat sekali, pikirku. Aku memang jenuh pada mata kuliah Sejarah dan Sastra, kurang menyenangkan bagiku. Apalagi aku sedang memikirkan sesuatu diluar diriku.

“Elu percaya sama mimpi?” Tanyaku pada temanku, Zen, seorang mahasiswa yang kalo ngomong kayak filsuf ini.

“Percaya.” Katanya menjawab pertanyaanku. Lalu curhat perihal masalahku padanya. Tentang mimpiku. Lalu aku bercerita dari A sampai Z pada Zen urutan masalahku itu. “Itu De Ja Vu namanya,” komentar Zen pada ceritaku.

“De Ja Vu? Ah, mana mungkin. Gue belum pernah ketemu dia sama sekali.”

“Ya udah, syukur kalo elu mau percaya omongan gue,” Zen berucap sambil mengangkat bahu, kemudian dia beranjak, “eh udah dulu ya, gue ada kelas sekarang.” Aku masih bingung dengan apa yang diomongkan Zen. Memang istilah De Ja Vu sendiri sudah sering kudengar, tapi aku sendiri agak kurang percaya. Lalu aku teriak pada Zen, “hei, Zen maksud elu De Ja Vu berarti gue akan bertemu dia?”. Zen berbalik mengangkat bahunya.

***

“Gus ayo ikut gue!” Ajak Xecell malam-malam sekali. Jam masih menunjukkan pukul 07.00 Wib.

“Kemana?” Tanyaku.

“Warnet.” Aku mengiyakan ajakan Xecell tersebut. Itung-itung refresing menjernihkan pikiranku.

“Cari apa?” Tanyaku setelah kami berada di jalan menuju warnet.

“Tugas Haikal, elu udah ngerjain?” Kuanggukkan kepalaku, tanda aku sudah mengerjakannya. Tak terasa kami berjalan sudah mendekati warnet.

“Elu mau pake sendiri? Apa bareng gue?” Tanya Xecell.

“Pake sendiri aja.” Jawabku.

“Dua, mas!” Xecell berkata pada mas operator. Dan kami diberi dua nomor, 10 dan 12.  

***

Aku sudah jenuh menghadap layar komputer, membosankan juga ternyata. Tapi, ketika aku ingin keluar dari Yahoo messenger tiba-tiba muncul sebuah nama. “V_S!” Batin hatiku. Melihat Id itu di layar komputerku, tak ayal muncul rasa ketertarikanku, kuklik nama itu mencoba berkomunikasi dengannya. Dan ia kusapa, “malam leh ngobrol2?”

“Boleh!” Lalu ia memperkenalkan dirinya. Betapa terkejutnya aku ketika tertulis di layar nama itu, Viani, umur 17 th, lokasi Ngawi. Ngawi asal kotaku.

“Apa bener itu nama kamu?” Balasku.

“Bener sekali!”

Viani, benarkah ia Viani yang selama ini hadir dalam mimpi-mimpiku. Viani yang selalu mengatakan aku mencintaimu. Tidak tidak aku pasti salah. Ia hanya ada dalam mimpi saja dan ini adalah kenyataan, gumamku sendiri menolak kenyataan. Aku tak mengenal orang diseberang sana. Siapa tahu ia adalah cowok. Siapa tahu ia memang benar-benar sesuatu yang maya. Siapa tahu dia berbohong perihal dirinya. Ya ya mungkin dia memang berbohong, tak ada yang benar-benar nyata didunia maya ini khan.

“Aku mencintaimu! Namamu Agus khan?!” Aku mengernyitkan dahiku. Gila!! Dasar gila. Aku berhenti, bingung. Tanganku gemeteran untuk mengetikkan kata-kata. Entah aku harus melakukan apa, senang atau susah. “Hei jangan diam, katakanlah sesuatu. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu!” Kata-kata itu terus muncul dalam dalam layar komputerku. Tidak hanya itu, kata-kata itu kemudian masuk ke dalam kepalaku terus mengatakan hal yang sama berulang-ulang. Ah, tidak!!!!!!!!!!!!!!!!

Dok. Dok. Dok. “Gus bangun! Kuliah gak?!” Teriak Xecell dari luar kamar. Aku terbangun. Ah, sial mimpi lagi. Siapa dia? Siapa Viani?

***

Aku berencana pulang ke Ngawi hari ini, tapi aku masuk kelas dulu, antara Ngawi dan Yogya hanya berjarak tiga jam saja. Jadi kuputuskan untuk pulang sorenya saja. Keinginanku untuk pulang adalah karena aku ingin menenangkan pikiranku tentang segala macam masalah yang tengah menggangguku. Lagipula besok adalah hari minggu kok, hari yang santai untuk menenangkan pikiranku.

***

Dari balik kaca bis, aku memandangi jalanan yang telah aku lalui. Ternyata selama ini mereka luput dari penglihatanku. Takjub bisa jadi. Pikiran tentang mimpi itu masih saja merajalela diotakku. Wajah itu masih kuingat dalam memori yang kian merasuk. Senyum yang menggoda. Lagi aku mencoba mengingat salah sau persatu nama teman-temanku. Tetap tak kutemukan satu pun jua nama Viani. Ah, sial … tak tahan semuanya kucoba untuk melelapkan diri dalam perjalanan ini.

***

“Gus tunggu!” Kata Viani memanggil namaku, “jangan pergi! Kumohon jangan pergi!”

Aku mengernyitkan dahiku. Entah apa yang dimaksudkan bocah ini. Aku tak tahu. “Tidak, aku harus pergi! Kamu menggangguku, menghilanglah dari kehidupanku!”

“Aku mencintai kamu Gus!” katanya mengulang-ulang kata yang sama.

“Enyah saja kau! Aku tak mengenal kau! Pergilah!!” Aku menghardiknya. Tetap dia tak goyah sedikitpun. Malahan semakin dia gencar mengatakan, aku cinta kamu, aku cinta kamu, aku cinta kamu, berulang-ulang. Aku berlari menghindar darinya. Berlari secepat yang aku bisa. Dan dia juga berlari mengejarku, berlari  mengejar tanpa peduli akan dirinya. Tidakkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Batinku meronta. Pergilahhhhhhhh!!!!!

Dia juga tak peduli, semakin aku berlari, semakin dia mengejar dengan kecepatan yang sama di belakangku. Dan tiba-tiba saja sebuah mobil besar mengerem dengan suaranya yang kencang sekali. Sebuah tubuh tepental sejauh 2 meter ke depan. Kutahu itu Viani. Ah, tidakkkkkkkkkk!!!!!!!!!! Kupegangi kepalaku. Aku terbangun. Sudah sampai di terminal Ngawi rupanya. Kondektur sudah berteriak-teriak. Ngawi. Ngawi. Ah, suasana kampung halaman memang menyenangkan.

Mobil angkot yang mengantarkanku sudah berlalu dari hadapanku. Aku sudah sampai depan rumah. Entah siapa yang datang kerumahku. Kulihat ada sebuah mobil sedan mewah terparkir disana. Aku berjalan masuk ke dalam sambil masih melihat mobil sedan tersebut dengan perasaan bertanya-tanya. Tumben ada tamu yang kemari. Siapa yah? Batinku.

“Aku pulang.” Dan betapa terkejutnya aku, ketika kulihat seorang cewek sedang duduk di ruang tamu rumahku. Jangan-jangan dia …. Jangan-jangan dia …. Lalu ibu keluar sambil membawakan segelas minum.

“Eh, kamu udah pulang to?” sapa ibu menyambut kedatanganku, “kenalin Gus ini Viani.”

Viani???! Aku terperosok dalam pikiranku. Ah, tidak jangan-jangan ini mimpi. iya ini mimpi khan? Hei katakanlah ini Mimpi, lalu kutampar pipiku keras-keras. Aow kepalaku sakit. Hei, apakah ini mimpi?[]
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Viani, Cinta Sejatikukah?"

Back To Top