T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Cinta: Choky Oh Choky

Pagi yang indah. Dewi ngulet-ngulet di atas kasurnya, sambil melirik jam wekernya. Jam 08.00 tepat, Dewi langsung ngacir ke  kamar mandi, hanya sekedar gosok gigi dan cuci muka sambil ganti pakaian buat lari pagi.

“Dew....Dewi ayo cepetan!!” Teriak Arum dari luar kosan Dewi. Dewi membuka pintu dengan tergesa-gesa sambil memakai sepatu lalu nyengir ke Arum.

“Gila lo Dew, jadi lo baru aja bangun, lo ronda yah tadi malam?”

“Sialan lo, gue semalem insomnia Rum.”

“Apa amnesia?” Pendengaran Arum yang rada eror sering kali buat salah kaprah.

“INSOMNIA!!” Tereak Dewi keras banget di dekat telinga Arum.

“Ih....lo apaan sih teriak keras banget.”

“Habis lo itu budek banget. Hehehe.”

“Sialan lo!”

Dengan riang gembiranya mereka lari-lari menyusuri komplek-komplek kosan mereka. Arum berlari mengikuti Dewi di belakang, keringatnya mulai menetes perlahan-lahan. Karena matahari mulai panas-panasnya saat itu.

Tiba-tiba Dewi menghentikan langkah larinya padahal belum nyampe kosan. Dia berhenti sambil melongo nggak jelas seperti melihat sesuatu yang jarang dilihatnya. Arum melihat Dewi melongo segera ikutan berhenti di dekat Dewi dan menepuk pundaknya dengan keras.

“Aaoooowwww!” Jerit Dewi keras banget, langsung Arum menutup mulut Dewi.

“Eh, lo itu liatin apa sih?”

“Gue liat Pasha ungu Rum, Pasha oh Pasha.” Ucap Dewi dengan mata berbinar-binar.

“Hah Pasha! Emang dia lagi liburan ya di Jogja?” Tanya Arum bodoh. Dewi tidak menjawab pertanyaan Arum, dia masih saja melongo liatin cowok yang sedang mencuci mobil itu. Arum sadar kalau yang diliat Dewi nggak salah dan nggak lain cowok pencuci mobil. Gubrak.

“Ye...lo itu sarap ya Dew, masak Pasha cuci mobil sendiri gitu sih.”

“Tapi gue yakin, dia itu kembaran Pasha yang di ciptakan Tuhan buat jadi jodoh gue.”

“Huek...lebay...jangan berkhayal deh lo Dew, dia itu bukan Pasha yang selalu lo idolakan itu.”

Dewi pun langsung bergerak bersama Arum menuju kosan. Mata Dewi masih berbinar-binar. Arum yakin Dewi masih kebayang-bayang sama cowok pencuci mobil tadi, yang dianggap Dewi sebagai kembaran Pasha. Padahal menurut Arum cowo itu jauh beda dengan Pasha, hanya potongan rambut dan penampilannya yang menyerupai Pasha.

***

Malam hari, waktu Arum akan menemui Dewi di kosan, Dewi ternyata nggak ada di kosannya, kata Rika kawan satu kosan Dewi, Dewi mau menemui Pasha. Arum sangat yakin itu anak pasti ke kosan cowok pencuci mobil itu, benar-benar gila.

Dugaan Arum tidak meleset, dia melihat dari kejauhan Dewi lagi asyik bincang-bincang dengan cowok itu. Arum melihat Dewi sedang tersipu malu oleh cowok itu. Pokoknya nggak banget deh si Dewi, padahal cowok itu sepertinya biasa saja. Tiba-tiba Dewi beranjak dari duduknya sepertinya dia mau pulang dan Arum segera menyelinap di balik pepohonan.

“Gue pulang dulu ya.” Ucap Dewi sambil melambaikan tangannya ke cowok itu. Dan cowok itu juga membalasnya. Sumpah norak banget.

“Ehm...ehm....ehm.” Arum berdehem-dehem di belakang, Dewi pun menoleh ke belakang.

“Eh, Arum gue senang banget malam ini.”

“Kenapa emangnya?”

“Gue tadi kenalan sama kembarannya Pasha, ternyata namanya Choky.”

“Maksud lo Choky Sitohang?” Tanya Arum bodoh.

“Ih, bukan kali namanya Choky aja nggak pake Sitohang gitu.”

“Oh Choky aja. Lo tuh ya mau-maunya kenalan sama pembantu.” Celetuk Arum asal-asalan.

“Enak aja kalau ngomong, dia itu bukan pembantu kale.”

“Loh tadi pagi aja dia nyuci mobil juragannya kan?” Spontan Dewi langsung menjitak kepala Arum yang dudul banget itu. Makin geram nian Dewi dengan Arum.

“Hei, plis deh Arum dudul. Dia itu cuci mobilnya sendiri kale, bukan punya juragannya.”

“Ow...kirain punya juragannya. Hihihi.” Ucap Arum sambil membuat tanda damai dengan tangannya. Peace. Dewi melotot ke arah Arum.

***

Hari demi hari, Dewi makin gila saja. Dia sering banget nyanyi lagu Ungu “Cinta dalam hati” sumpah suaranya falls banget. Dan tiap waktu Dewi selalu menyempatkan menulis diary di diary butut ala anak SD yang mungil dan gambarnya barbie. Dia lagi menulis isi hatinya di diary itu.

Sekarang anak-anak kosan tempat Dewi singgah, sedang heboh-hebohnya menggunjing cowok bernama Choky. Kawan-kawan Dewi nggak rela Choky diklaim sebagai kembarannya Pasha. Pokoknya pada nggak ikhlas banget gitu, karena Choky itu nggak seganteng Pasha tapi lebih mirip dengan Aming. Hehehe.

“Mau kemana jeng? Tanya Riri yang nggak sengaja melihat Dewi mengendap-endap mau keluar kosan saat kawan-kawannya tengah asyik membicarakan Choky.

“Oh...eh..itu aku mau ke kosan sebelah mau ketemu Arum.” Jawab Dewi gelagapan membuat makin mencurigakan.

“Gue disini Dew, kalau mau cari gue.” Arum mengacungkan telunjuknya penuh kemenangan, ketahuan deh Dewi bohong. Padahal dari tadi jelas-jelas Arum lagi nongkrong di kosannya bersama yang lain.

“Huwa...kabuuuurrrr!!!”

“Woi...Dew...Dewi!” Panggil Arum, dan Dewi sudah tidak lagi meggubrisnya.

***

Mendadak Dewi melongo, melihat pemandangan yang aneh, Choky cipika cipiki sama cowok bule. Orangnya lebih besar dari Choky kaya Ade Rai gitu deh tapi gayanya lebay. Setelah cipika-cipiki, bule itu pergi dengan taksi, lalu Choky melambaikan tangannya, lalu tersadar ada Dewi.

“Eh, Dewi.”

“Cowok bule tadi itu temen lo ya?”

“Oh..em..iya, emang kenapa Dew?”

“Nggak apa-apa kok, gue kira tadi Ade Rai. Hehehe.” Ucap Dewi garing banget. Lalu Choky masuk ke dalam untuk membuat minuman, setelah sebelumnya ia mempersilahkan Dewi masuk.

Tiba-tiba hp Choky yang tertinggal di ruang tamu bergetar. Dewi melihat layar hp Choky. My Richard memanggil, segera Dewi pura-pura nggak tahu karena Choky sudah datang dengan membawa minuman. Lalu ia segera menjawab telepon itu.

“Oke beib tunggu sebentar ya.” Jawab Choky singkat, lalu segera mematikan telepon itu.

Dugaan Dewi, Si Choky di telepon bule lebay tadi. Sedikit pun dia tidak curiga dengan hubungan antara Choky dengan bule lebay itu. Dia amat sangat yakin Choky masih jomblo, karena belum pernah ada cewek yang datang ke kosannya selain dia saja, dan Dewi sangat yakin juga dia pasti bisa jadian dengan Choky.

“Nggak  kuliah Dew?” Tanya Choky kalem.

“Emm...gue hari ini libur kok, nggak ada jadwal kuliah.” Jawab Dewi alasan, padahal dia bolos kuliah sudah 3 hari ini demi pedekate sama Choky. Gile bener.

“Oh, gitu ya. Nanti malem boleh nggak gue maen ke kosan lo?”

“Boleh-boleh, gue juga nggak ada acara kemana-kemana kok.”

Awal yang baik buat Dewi, dia yakin Choky emang soulmatenya. Dan Choky mulai menanggapi Dewi, dan Dewi yakin Choky mulai akan mendekatinya lebih dalam mulai hari ini. Hati Dewi juga sangat senang karena Choky akan maen ke kosannya.

***

Malam sekitar pukul 19.00 WIB, kosan seperti sudah di sihir sama Dewi. Ruang tamunya bersih dan kinclong banget apalagi di tambah dengan wangi aromatherapy. Pokoknya sempurna deh. Kawan-kawan Dewi juga sudah disuap dengan semangkok bakso agar tidak mengganggunya malam ini, karena dia hanya ingin berduaan dengan Choky. Kawan-kawanya mau tak mau di sekap di kamar Dewi. Sumpah pada nggak tahan, ada yang nahan pipis sampai nahan kentut.

“Dew, kosan sepi amat kayak kuburan, biasanya kan rame.”

“Oh...hehehe, iya nih anak-anak pada mau jalan-jalan tadi katanya.”

“Kok lo nggak ikutan mereka jalan-jalan? Ya kalau nggak sama cowok lo gitu.”

“Gue kan jomblo.”

“Ah, masak cantik-cantik jomblo sih.” Langsung Dewi GR banget di bilang cantik sama Choky.

Selama 3 jam lebih Dewi ngobrol dengan Choky. Padahal kalau dia tahu kawan-kawannya sudah pada nggak tahan berada di dalam kamarnya, mereka sampai misuh-misuh nggak karuan dan serasa ingin mendobrak pintu kamarnya. Dan akhirnya Dewi membukakan pintu kamar dan mereka semua bisa bernafas lega.

“Sialan bau kentut Dew kamar lo.” Celetuk Nita asal-asalan.

“Emang lo pikir kamar gue jamban enak aja.”

“Eh, gimana acara ngobrol lo sama Choky?” Tanya Arum sangat antusias banget pengen tahu.

“Emm...kayaknya bakal sukses deh, besok gue mau jalan sama Choky.”

“Gila lo Dew, lo yakin dia cowok baik-baik?” Tanya Nita dengan sewotnya.

“Jangan buruk sangka dulu dong Nit, harusnya lo dukung gue.”

“Gue kan cuma tanya aja Dewi jelek, kan nggak rela temen gue di apa-apain sama cowok.”

“Iya, mesti hati-hati deh lo Dew.” Timpal Arum memberi saran, mereka pun berpelukan bak teletubbies, Dewi pun menangis haru karena teman-temannya mau peduli padanya. Lebay banget.

***

Dewi sudah berada di mall bersama Choky. Akhirnya Dewi jalan-jalan juga dengan Choky, dan betapa hatinya senang saat ini. Dia juga berharap bisa jadian dengan Choky.

“Makan yuk Dew.” Ajak Choky langsung masuk ke sebuah restoran makan cepat saji.

Choky oh Choky, Dewi menatap Choky penuh arti. Dewi berharap sehabis makan ia langsung di tembak, kalau perlu langsung di lamar deh, Dewi akan langsung menerima ajakannya tanpa pikir panjang. Hihihi.

“Mau nambah nggak Dew?”

“Hah...eh...oh nggak sudah kenyang kok.”

Tiba-tiba seseorang datang, dan sudah tidak asing lagi bagi Dewi. Itu si bule lebay yang waktu itu. Bule itu mendekap mesra tubuh Choky dari belakang. Dewi melongo merasa aneh dengan pemandangan itu apalagi untuk sesama jenis seperti mereka.

“Beib you ngapain disini?” Tanya bule itu penuh curiga dengan logat centil.

“Emm...ini makan bareng temen.” Jawab Choky dengan wajah nampak pucat. Lalu bule itu menyodorkan tangannya ke arah Dewi.

“My name is Richard or panggil aja gue Icha.”

“Gue Dewi.”

Wajah Dewi juga mendadak pucat, ia sadar ada kejanggalan dengan diri Choky dan bule itu. Dewi jadi parno dengan alam pikirannya sendiri dan berharap dugaannya itu tidak benar. Tapi Dewi mencoba tenang ia ingin tahu kebenarannya sebelum ia pergi meninggalkan mereka berdua.

“Emm..eh Choky hubungan lo sama Icha nggak hanya sekedar teman biasa ya?” Tanya Dewi dengan hati cemas.

“Jujur aja ya Dew, dia itu sebenarnya pacar gue.” Ucap Choky sambil menatap bule itu dengan mesra. Mendengar penjelasan itu Dewi shock banget. Choky dan bule itu sudah tidak memperdulikan reaksi Dewi, mereka malah asik bercanda.

***

Kawan-kawan Dewi sekosan mendadak cemas. Sepulang dari jalan dengan Choky, ia langsung mengurung diri di kamar tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tak segan-segan kawan-kawannya mencoba menghibur Dewi padahal mereka belum tahu duduk perkaranya.

“Dew, udah dong jangan sedih kalau Choky nolak lo, emang udah takdirnya lo itu di tolak dia, ups salah maksudnya mungkin bukan jodohnya lo sama dia, cari cowok laen aja deh.” Ucap Arum mencoba memberi semangat untuk menghibur Dewi.

“Gue kan udah bilang hati-hati dia belum tentu baik, lo diapain sih sama dia? Biar nanti gue hajar deh.” Timpal Nita dengan kata-kata sok jagoan.

“Udah Dew jangan takut jomblo, gue juga jomblo kok.” Kata Rika berharap ucapannya bisa membuat hati Dewi tenang.

Dewi membuka pintu kamarnya, matanya sembab dan tissue berserakan di kasurnya. Mewek gitu deh ceritanya si Dewi. Dewi berusaha bercerita tentang kejadian sesungguhnya sambil sesenggukan.

“Huhu...bukan soal jomblo yang gue permasalahin, kalian tau nggak kalau ternyata Choky itu HOMO...huhuhu.”

“Apa Choky HOMO!!!” Ucap kawan-kawannya bebarengan.

Dewi malang oh dewi malang, baru saja dia tergoda sama cowok berwajah manis dan tampan eh nggak tahunya homo. Semenjak kejadian itu dia sudah nggak mau lagi ketemu Choky. Sepekan berlalu semenjak kejadian itu Choky sudah pindah kost. Dewi sangat menyesal banget sudah bela-belain bolos kuliah, dan sekarang ribet deh ketinggalan mata kuliahnya. Kapok deh.[]

Penulis: Putri Pratiwi | Cewek. 20 tahun, kini tengah menggalau di kampus teknik jurusan Pendidikan Tata Busana di UNY 2009. Kontak via Facebook.
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Cinta: Choky Oh Choky"

Back To Top