T h e P o w e r o f L o v e

Cerpen Sedih: Bhisma

Sebetulnya cerita pendek yang saya tulis ini, tidak cocok disebut cerpen melainkan flashfiction. Karena, jumlah kata yang tertampung di dalamnya terlampau sedikit. Walaupun, itu memang saya disengaja. Yeah, apapun itu, toh karya ini tetap saya sebut cerpen sedih. Sudah, selamat membaca saja ya ^^

Cerpen Indonesia: Bhisma

Kantin, pukul 09.00 pagi.

"Pulang sekolah, kamu jangan pulang dulu ya," ujar Bhisma. Ketika ia menghampiri Ambar yang tengah sarapan.

"Kenapa emangnya?"

"Hmm, ada yang ingin kubicarakan."

Deg. Jantung Amba berdegub lebih kencang. Pertanda? Apakah Bhisma bakal menembaknya? Belakangan ini Bhisma memang gencar mendekatinya.

"Hmm..."

"Sudah, tunggu aku di pintu gerbang. Sebelum aku datang, kamu jangan pulang dulu ya." Bhisma mengakhiri kata-katanya dan bergegas pergi.

Ambar tidak dapat menyelesaikan makan siangnya. Pikirannya terganggu. Konsentrasinya terpecah antara rasa bahagia dan rasa deg-degan. Menciptakan rasa mual aneh di dadanya. Permintaan Bhisma untuk menantinya sepulang sekolah bukanlah permintaan yang akan bertepuk sebelah tangan. Dia juga merasakannya. Ini pengalaman pertamanya jatuh cinta sekaligus dijatuhi cinta. Benarkah Bhisma akan menyatakan cinta?

***

Teet... Teet... Teet...

Bel sekolah berbunyi bertalu-talu. Suaranya menciptakan angan di batin Ambar. Beberapa gelintir pertanyaan menguar di benaknya, bersicepat bersama aliran darahnya. Memompa jantungnya. Rasa yang dirasakan Ambar sungguh mempesona.

Ambar berjalan pelan sambil menengok ke arah kelas 3A. Dimana itu merupakan kelas Bhisma. Murid-muridnya belum keluar. Anak-anak kelas 3 memang tengah melakukan beberapa persiapan menghadapi UAN.

Ambar kemudian menunggu di pintu gerbang sesuai perjanjian. Tidak berapa lama kemudian, Bhisma datang membawa senyum kehangatan.

"Hai," sapa Bhisma, "Lama nunggunya?"

Ambar menggeleng.

"Yaudah, langsung jalan aja yuk."

"Lho, katanya, mau ngomong sesuatu kok ngajak jalan?" tanya Ambar tersenyum.

"Disini? Kayaknya kita cari tempat aja deh. Selagi aku ngambil motor, kamu tentuin aja dimana tempat yang enak."

Bhisma pun mengambil motornya dan mengendarainya hingga tepat ke hadapan Ambar. Ambar melangkahi jok belakang dan berangkat menuju tempat dimaksud.

***

"Mbar, udah lama aku memperhatikanmu. Kita juga udah beberapa waktu berteman. Selama ini, aku memendam perasaanku padamu." Bhisma memegang punggung tangan kanan Ambar dengan telapak kanannya.

Ambar sedikit grogi. Tapi, ia tidak menarik tangan kanannya. Ia mencoba mensinkronasikan semua. Debaran degub jantung, perlakuan Bhisma yang lembut dan terus terang, dan sikapnya yang akan diambilnya.

"Maukah kamu menjadi pacarku?"

Jleb. Perasaan aneh itu mencuat lagi. Jika saja, Tuhan tidak menciptakan pengendalikan diri pada manusia niscaya Ambar bakal menggelepar-gelepar bak ikan kekurangan air. Tapi berhubungan Ambar mampu menguasai dirinya, ia tersenyum.

"Bolehkah aku memikirkan jawabannya terlebih dulu?" Ambar bertanya pertanyaan pancingan. Ia ingin melihat sejauh mana rasa yang dimilik Bhisma untuknya.

"Berapa lama yang kamu butuhkan?"

"Besok?"

"Tidak jadi persoalan. Masih ada hari kok untuk besok," sahut Bhisma yang merasa memiliki angin. Lalu, menandaskan potongan burger terakhirnya.

"Habis ini kita kemana?"

"Pulang aja ya. Aku masih punya pr pertanyaanmu. Siapa tahu sesampainya di rumah, aku sudah tahu jawabannya."

"Ah, bisa aja loe."

***

Bhisma mengantarkan Ambar hingga gerbang rumahnya.

"Mampir dulu?" tanya Ambar begitu kakinya menjejak tanah.

"Langsung aja. Next time aku mampir deh. Kalau jawabanmu positif."

Kedua muda-mudi itu pecah tertawanya.

"Yaudah, aku cabut dulu ya." Bhisma mengedipkan mata sebelah kanannya. Isyarat dia akan segera berlalu dari hadapan Ambar.

"Dah..."

Ambar membuka pagar, dan berjalan ke pintu rumah. Hatinya berbunga-bunga saat itu.

Ketika hati Ambar tengah berbunga-bunga. Di satu sisi, hati Bhisma juga tengah berbunga-bunga karena ia merasa Ambar akan menerimanya. Sampai-sampai dia tidak sadar ada sebuah truk yang crossing di perempatan. Dan... Buak... Tubuh Bhisma terpental sejauh 15 meter.

Bersambung ke Cerpen Indonesia berjudul Bhisma bagian 2.
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Cerpen Sedih: Bhisma"

Back To Top