T h e P o w e r o f L o v e

Mi… Pi… Masa Lupa Ulang Tahunku?

Cerpen Lucu: Mi... Pi... Masa Lupa Ulang Tahunku?

Seusai merampungkan shalat Subuh, Alika melompat hepi. Sambil jejingkrakan bak kuda lumping, dia menuju balkon. Di bawah dekat taman, tampak Mami sedang sibuk melakukan gerakan senam aerobik. Terang aja Alika kaget. ‘Kenapa Maminya malah sibuk aerobikan?’

“Mamiii…” teriak Alika.

Mami diam saja mendengar teriak itu. Alika mendengus. Dengan cepat dia capcus turun ke bawah, menemui Maminya itu. Dia langsung mematikan tape yang sedang menyetel lagu senam aerobik.

“Miii…” Alika teriak lagi. Maminya masih diam saja, tidak peduli dengan kehadiran Alika.

Beberapa saat kemudian Alika baru ngeh. Ternyata Maminya pakai BlackBerry 10 untuk mendengarkan mp3.

“Miii…” Alika menoel pantat Maminya. Maminya tersenyum sambil terus goyang.

“Tunggu, Sayang. Tanggung nih goyangnya!”

“Miii…”

Alika mencari BlackBerry 10 yang berada di kantong belakang training Mami. Dan langsung mematikan.

“Jiah, Alika. Mami lagi on fire gini…” Mami mengelap keringatnya.

“Ngapain sih Mami pakai dua tape gitu? Boros tauk!”

“Sst… ini trik Mami. Sebenarnya Mami senam aerobik pakai lagu dangdut. Biar nggak ketahuan sama tetangga kalau Mami pakai lagu dangdut. Soalnya, Mami bilang ke mereka kalau Mami benci banget sama dangdut. And so, Mami pakai nih mp3 dari BlackBerry 10. Lagian, sekalian menjajal produk baru buatan RIM itu. Janji nggak bilang siapa-siapa ya, Sayang?”

Alika mendengarkan celoteh Maminya dengan bijak. Dalam hati dia berkata, ‘capek deh.’ Tapi, akhirnya dia berkata, “Iya, Mi. Iya…”

“Eh iya, Mi?” tanya Alika lagi.

“Ya, Sayang?”

“Sekarang hari apa, Mi? Inget-inget deh…”

“Mami belum pikun kalee…”

Alika tersenyum. Mukanya girang. Maminya pasti inget hari ini dirinya ulang tahun sweet seven teen! Akhirnya… Yess!

“Hari Minggu-lah… Buktinya Papimu ada di rumah tuh. Ongkang-ongkang kaki sambil baca rubrik cerpen Indonesia di Koran Kompas.”

“Jiah, Mami. Si Liyan yang ngomongnya belum jelas juga tauk kalau sekarang Hari Minggu. Ayo dong Mi diinget-inget lagi. Ada apa di Hari Minggu ini?”

Mami tercenung, mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi di Hari Minggu ini.

“Eh iya, hampir aja Mami lupa. Mami harus ngambil roti di rumah Bu Jihat! Nanti kan ada arisan di rumah. Mami tinggal dulu ya, Sayang. Dah… I love you!” Mami melenggang genit.

Dengan lemah, Alika masuk ke dalam rumah. Lemas betul rasanya. Maminya yang selama empat puluh minggu mengandung dirinya, mengeluarkannya antara hidup dan mati, tidak ingat dengan hari ulang tahunnya?!

Padahal, dari jam dua belas malem hingga menjelang Subuh tadi, tak henti-hentinya SMS, BBM, Whatsapp, WeChat, dan telepon mengalir dari teman-temannya, sekadar mengucapkan selamat ulang tahun. Mulai dari Syifa, sahabat dekat sehidup-sematinya. Farrel, Dinda, bahkan Cak Kris, penjaga sekolah.

Gimana sih, orang lain justru lebih inget dari Mami sendiri! Alika mengomel-ngomel dalam hati. Sungguh terlalu!

Di ruang tengah, Alika melihat Papinya tengah membaca Koran Kompas. Dia lalu menghampiri Papinya itu.

“Pi?”

“Hmmm…”

“Lagi ngapain?”

“Bacalah. Masa’ lagi nyanyi dangdut. Kamu ini ada-ada aja.”

“Tauk, Pi. Maksud Alika tuh, Papi lagi baca rubrik apa?”

“Oh, ini rubrik cerpen bahasa Indonesia. Habis belakangan ini, kerjaan Papi makin enak. Banyak waktu luangnya. Cuma tinggal tandatangan, selesai, terus nunggu duit ngalir ke kocek Papi deh hehehe…. Nah, demi mengisi kekosongan waktu luang itu, Papi mau nyoba belajar menulis cerpen. Yah, siapa tauk, Papi bisa jadi sastrawan. Seperti Seno Gumira Ajidarma itu. Makanya, Papi baca rubrik ini.”

“Papi mau jadi sastrawan? Latar belakang pendidikan Papi kan bukan sastra? Emangnya Papi tahu cara menulis?”

“Jangan salah. Taufik Ismail itu seorang dokter lho, tapi dia juga dikenal sebagai sastrawan. Terus, Tompi juga dokter tapi bisa nyanyi. Intinya bisa, asalkan terus belajar dan melahirkan karya-karya sesuai bidang yang diminati. Seseorang bisa besar karena hobi lho.”

“Oh, begitu ya? Iya deh, Pi… Alika doain semoga cita-cita Papi jadi sastrawan bisa tercapai. Amin.”

“Iya, amin.”

“Ngomong-ngomong, Papi inget nggak ini tanggal berapa?”

“Tanggal muda. Kan belum lama Papi ngasih gaji sama karyawan-karyawan Papi.”

“Bukan itu. Menurut Papi, ada peristiwa penting nggak hari ini?”

Papi mikir sejenak.

“Apa ya? Buruh pada demo ya?”

“Ayo dong, Pi, diinget-inget. Papi udah minum suplemen otot dan otak itu kan? Harusnya Papi inget…” ucap Alika semangat.

“Ah, buntu. Nggak tauk ah,” Papi bangkit, “Papi mandi dulu. Bau apek nih!”

Alika bengong. Papinya yang dari rekaman video waktu kelahirannya menunggui di rumah sakit, lupa hari ultahnya? Ada apa dengan Mami dan Papinya? Apakah kepikunan telah melanda mereka, lantara usia mereka tak lagi belia? Hati Alika merasakan sedih luar biasa. Bagaimana tidak sedih? Semua orang tidak lupa hari ulang tahunnya yang ke-17, selain Mami dan Papinya.

Dengan masgul, dia melangkah balik ke kamarnya. Dia merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Air mata berlinang-linang di pipinya…

Tiba-tiba BlackBerry 10 miliknya berdering.

Ternyata yang menelepon adalah Ceria, sahabatnya.

“Happy birthday, Alika. Tujuh belas tahun usia lo ini hari ye… I love you, Alika.”

“Thanks, Cerita. I love you too…”

“Lo pasti hepi kan?” tanya Cerita.

Alika cemberut dan menggeleng.

“Halo, Lik? Lo nggak ngejawab pertanyaan gue?”

“Lo nggak lihat muka gue muram durja gini?” ucap Alika polos.

“Idih! Mana gue tahu! Kita kan nggak face to face!”

“Hehehe…” Alika nyengir kuda sendirian, “Lupa gue saking sedihnya. Bayangin, Cer, Mami en Papi lupa ulang tahun gue!”

“Hah, masa sih?”

“Bisa kebayang kan lo sedihnya gue? Hati gue hancur berantakan, berserakan kayak pasir yang siap diterbangkan angin…”

“Duile, segitunya.”

Tok… tok… tok… pintu kamar Alika terdengar diketuk.

“Cer, sebentar ya?” Alika menjauhkan BlackBerry 10 miliknya.

“Siapa?” teriak Alika.

“Saya Non, Si Mbok.”

“Masuk, Mbok. Kalau udah selesai, buruan keluar.”

Si Mbok masuk. “Duh, Non, baru aja masuk udah suruh keluar aja. Eh, Non, lagi sedih ya?”

“Kok tahu?”

“Itu mata ngejendol gitu.”

“Apa sih ngejendol, Mbok?”

“Sejenis bengkak. Non, disuruh turun. Ditunggu Mami sama Papi di bawah sekarang!”

“Ogah, Mbok. Lagi bete!”

“Nggak boleh gitu, Non. Yaudah, pokoknya Non harus turun ke bawah.”

Si Mbok kemudian berlalu. Alika menyambung pembicaraannya yang terputus dengan Ceria. “Halo?”

“Siapa, Lik?” tanya Ceria.

“Pembokat gue. Cer, udahan dulu ya, gue dipanggil Mami Papi!”

“Oh, yaudah.” Telepon ditutup dari seberang.

Alika pun bangkit dan berniat keluar kamar. Begitu pintu dibuka, door… door… pletak… swing…

Suasana hingar bingar. Balon diletuskan, kertas krap beterbangan ke mana-mana. Tampak Mami, Papi, Ceria, Farrel, Malik, Syifa, Dinda, Si Mbok, dan Cak Kris berdiri mengelilingi blackforest yang diatasnya ditancap lilin bernomor 17.

“Happy birthday, Sayang…” Papi memeluk dan mencium pipi Alika penuh cinta.

“Mami juga dong. I love you, Sayang!” Mami ikutan memeluk Alika dengan mesra.

Momen itu diabadikan Ceria dengan kamera pocket. Setelah itu, serempak, yang lain berucap, “Happy birthday!”

“Ternyata lo nelepon dari luar kamar ya?” tanya Alika kepada Ceria.

Ceria mengangguk-angguk.

“Ini surprise buat ulang tahunmu yang ke-17, Sayang. Kan tiap tahun sama begitu-gitu aja. Supaya berkesan gitu,” ujar Papinya.

Alika tersenyum.

“Make a wish! Tiup lilinnya! Potong kuenya!”

Alika pun memejamkan matanya. Lalu, meniup lilinnya. Semua orang berbahagia di hari ulang tahun itu. Dalam hati Alika, ‘Duh, ulang tahun tahun ini berasa seperti cerita dalam kumpulan cerpen Indonesia yang pernah gue baca.’ Air mata Alika pun berlinang-linang. Namun, berbeda dengan sebelumnya, kali ini yang keluar adalah air mata bahagia.[]
Comments
0 Comments
0 Komentar untuk "Mi… Pi… Masa Lupa Ulang Tahunku?"

Back To Top